Thursday, August 6, 2009

(Part 3 - END) Quantum Ikhlas = ilmu tingkat tinggi, prakteknya ga semudah pengucapannya…

Lanjutan dari ceita sebelumnya...

 

Cari dokter kandungan yang sesuai dan sreg dengan hati ternyata ga mudah. Akhirnya ketemulah aku sama dr Idrawati di RS Mitra Int’, emang dari awal kalo u/ konsul aku pilih obgyn wanita, bukan apa, tapi lebih kefaktor kenyamanan aja, maklum pastinya konsul infertilitas kan akan ada periksa dalam, so kalo sama2 wanita kan enak.

 

Bener2 H2C begitu pertama kali ketemu dokter. Ditanya udah berapa lama nikah, siklus haid, gaya hidup dan kebiasaan aku dan suami. Setelah melalui pemeriksaan yang panjang termasuk cek sperma, alhamdulillah kami berdua dinyatakan sehat, catatan u/ suami kurangi merokok, karena si ayah emang perokok. Berbulan-bulan kami bolak balik ke dokter, catat kapan setiap haid, hitung masa subur, kapan waktu2 yang baik u/ nyampur dan semua treatment dokter kami patuhi, namun ternyata aku belum juga hamil. Merasa cape bolak balik akhirnya kunjungan ke obgyb kami stop, selanjutnya tinggal berdoa dan pasrah.

 

Kehidupan kami mulai tenang, meski sesekali masih suka adu argument. Namun pertanyaan tentang anak semakin sering sampe ke telingaku. Mulai ga nyaman dan merasa kesel. Pernah saking keselnya ada kerabat yang Tanya tentang anak, kujawab, “Wa, aku juga mau punya anak tapi kalo belum waktunya gimana, Nanti aku tanya Allah aku dapat antrian no berapa.” Gilaaa… diluar akal sehat, jawabanku bener2 ngawur. Ayahnya Jibran pun ga suka dengan jawabanku tapi aku kadung kesel. Akhirnya aku malas datang ke arisan keluarga, malas ikut undangan, enggan silaturahmi ke rumah saudara.  Ayah ga bisa apa2 karena ayah emang ga suka maksa.

 

Pelampiasanku makin menjadi, aku merasa benar2 jauh dari keluarga, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman2 kuliahku, beberapa temen kuliahku banyak yang belum menikah, kalopun ada yang udah nikah, mereka pun belum punya anak, seperti diriku. Merasa dapat dukungan dari temen2ku, aku makin asyik. Kupikir selama aku masih bisa bagi waktu antara pekerjaan kantor, pekerjaan di rumah, dan ayah ga complain, aku merasa semua baik2 saja, aku mulai jarang berduaan dengan ayah. Sampai suatu hari ayah menegurku, “Bund, kamu seneng kalo ketemu temen2mu?” “Ya iyalah, emang kenapa Yah.” Jawabku. “Bener kamu merasa tindakanmu itu ga keliru, main sama temen2 setiap week end.” Tanya ayah lagi. “Loh emang kelirunya dimana, toh aku masih bisa bagi waktu antara kerjaan dan di rumah.” Jawabku. “Hmmm… ok, aku ga akan larang, silahkan aja jika menurutmu itu baik, lakukanlah.” Jawab ayah. Dalam hati aku bingung, si ayah nih kenapa sih….

 

Setelah beberapa lama aku asyik dengan teman2ku, sampai suatu hari aku ga sadar, ternyata ayahpun juga melakukan hal yang sama. Ayah sering banget telat pulang ke rumah, ternyata ayahpun ngumpul dengan teman2 klub vespanya. Aku ga berani complain. “Aku kan sudah pernah nanya sama Bunda, dan Bunda jawab  ini bukan suatu kekeliruan toh kita main dengan teman masing2 bukan?” Ujar Ayah. Deeegggg… aku berasa disindir. Hmm… ayah ga pernah complain, ayah ga pernah marah, ayah ga pernah curiga, ayah hanya melakukan apa yang aku lakukakn. Awalnya aku merasa ayah balas dendam ternyata bukan, ayah melakukan hal yang sama, karena aku cenderung ga terima jika diberitau atau diingatkan melalui kata2, namun aku akan menyadari jika diberitau dengan hal yang sama.

 

Suatu malam ayah pulang larut, aku di rumah menunggu, kutelpon ga diangkat, ku sms ga dibalas. Sampai akhirnya ayah pulang pk 11, aku ga berani nanya darimana ayah, sampai akhirnya aku ga tahan dan nangis, ayah Cuma ngeliatin, makin aku nangis, ayah masih belum berkata2, sejurus kemudian ayah memelukku masih tanpa kata2.

 Sikap ayah semakin aku mengerti, semakin aku paham. Ayah tipikal idealis sungguh idealis. Keras dilawan keras ga ada guna. Titik nadir itu datang di pertengahan ramadhan 2006. Buku2 resep dan masakan yang ayah belikan selama ini, pelan2 aku pelajari. Macam macam kue dan masakan mulai aku coba buat. Meski banyak gagalnya, ayah selalu bilang enak. Bener2 ayah menghargai usahaku. Hasil praktek bikin kue ga sia2, terbukti lebaran aku bisa bawa oleh2 kue kering buatan sendiri ke kampung ayah di Cirebon dan juga untuk ortuku.

Lebaran 2006 ga akan bisa kulupakan. Aku dan suami mudik ke Cirebon, ayah (abah) dan ibuku (mba uti)  juga ikut termasuk 2 adikku. Rencananya lebaran pertama kami sekeluarga di Cirebon dan lebaran kedua kami ke Kuningan, kampung halaman abah. Lebaran pertama 24 Okt 06 bertepatan dengan b’dayku, sungguh meriah, mertuaku membuatkan kami ayam bakar dan nasi kuning. Di hari lebaran ke 2 ketika kami siap2 mau ke Kuningan tiba2 dari arah kamar mandi, abah teriak2, entah kenapa tiba2 abah terjatuh, dan ga bisa bangun, kami semua panik, kemudian abah dibawa ke RS Pelabuhan, berhubung hari lebaran, hanya ada dokter jaga. Setelah dirawat selama 2 hari tidak ada perubahan, kami putuskan untuk membawa  abah ke Jakarta. Akhirnya dengan ambulance kami membawa abah ke RS Mitra Int – Jkt. Selama di ambulance perjalanan Cirebon-Jkt, aku mual2 dan muntah ga henti2. Aku ga curiga apa2, focus kami semua ke pengobatan abah. Alhamdulillah di Jkt ayah dapat pengobatan yang baik, diketahui ada syaraf kejepit di pinggang ayah.

 

Aku mengeluh ke ayah, kenapa mualku ga kunjung sembuh, ayah bilang mungkin mau haid. Apa haid.. hah? Baru aku nyadar seharusnya 8 Okt aku haid, ternyata s/d tgl 29 okt aku belum haid, sempet GR hamil kah aku, tapi ga berani seneng dulu karena siklus haidku emang ga teratur? Mumpung lagi di RS ayah minta aku langsung ke obgyn aja, kuturuti omongan ayah, aku ke obgyn di temani ayah, dokter Tanya kapan terakhir haid, lalu USG dan “selamat ya Pak, anda jadi calon bapak.” Ujar dokter. “Maksud dokter?” Tanya suamiku. “Istri anda hamil Pak, sekali lagi selamat ya.” Hah???? Suami ku langsung memelukku, “alhamdulillah Bunda, Bunda hamil”… ga terasa airmataku meleleh, antara percaya dan tidak percaya. Alhamdulillah, trima kasih ya Allah, disaat abah sedang terkapar karena sakit, kau berikan satu karunia lainnya dengan kehamilanku.

Segera kusampaikan berita bahagia ini ke abah dan Ibuku, juga ke mertua dikampung. Semua bahagia dan pesan yang sama, hati2 dan jaga kehamilan ini baik2.

 

Bulan demi bulan, kulalui dengan lancar, semenjak diketahui hamil ayah semakin perhatian. Antar dan jemput aku jadi agenda wajib ayah. Sungguh belum pernah ayah sebegitu perhatiannya ke aku. Sampai akhirnya di bulan ke 6 dokter mengatakan kehamilanku mengalami plasenta previa, hmm.. pantas acapkali selesai berhubungan atau kecapean pasti besoknya aku flek. Sempet khawatir, namun dokter bilang semua akan baik2 aja, yang penting hati2, jika sudah cukup minggu masih previa tidak ada jalan lain kecuali Caesar.

 

Di kehamilan 38, tepatnya 7 Juni 07 aku melahirkan Jibran melalui Caesar. Sungguh pinginnya aku lahiran alami, namun di USG di minggu 37 ari2 masih menutupi jalan lahir, kepala bayi ga bisa turun.

Syukur alhamdulillah operasi berjalan lancar. Semua bahagia menanti eklahiran Jibran. Trima kasih ya Allah… akhirnya kau berikan kami kepercayaan dengan hadirnya Jibran ditengah2 kami.

Banyak anak banyak rejeki. Itu pepatah orangtua dulu. Berjalannya waktunyak rejeki yang tak terduga. Ayah dapat promosi di kantor, aku tengah hamil 7 bulan. Awal2 pernikahan kami masih dipinjami kendaraan oleh orangtua, sampai tanpa diduga kami bisa beli sendiri kendaraan. Alhamdulillah…

Suatu hari ayah dapat proyek dari adikku Mama Tika, niat awal membantu mencarika supplier, namun belakangan karena kepet waktu, ayah memberanikan diri mengambil proyek tsb, sempat tertatih-tatih dan bikin dummy beberapa kali gagal, modal hampir habis, namun ayah ga menyerah, sampai akhirnya proyek tsb berhasil, usaha ayah ga sia2… alhamdulillah. Uang hasil proyek tsb akhirnya oleh ayah dibelikan sebidang tanah.

Dan puncaknya bulan Maret lalu rencana awal kami ingin bikin pagar ditanah tsb, ayah bilang ke abah cirebon (bapak mertuaku) sayang kalo hanya bikin pagar, ayah nekat malah bikin rumah, padahal uang pas2an. Sungguh aku ga duga ayah senekat itu, "Insya Allah Bund, semua lancar, yang penting support dan doanya, prihatin untuk hasil yang besar"  

Sampai akhirnya saat ini tanah yang kami beli pada Agustus 08 sudah berdiri rumah yang pembangunannya sudah masuk tahap finishing. Trimakasih ya Allah, semua karuniamu ini berasa mimpi.

 

Meski sekarang Jibran sedang treatment untuk HB nya. Insya Allah kami aku dan suami ga akan putus berusaha. Seperti ayah bilang, “manusia tempatnya berusaha, Allah yang menetukan. Yang penting ikhlas dan selalu berdoa. ” Amien... semoga semuanya lancar..

 

====================================================================

 

*catatan Bunda yang masih punya banyak PR untuk terus berusaha yang terbaik untuk Jibran, untuk ayah, untuk semua orang2 yang aku cintai......

Wednesday, August 5, 2009

[SHARE] Karantina itu berhasil, alhamdulillah…

Disiplin dan konsekuen, itulah kuncinya, meski dirasa berat namun jika dilakukan dengan kesadaran dan akibat dan manfaat dibelakangnya, pastinya merasa bangga.

Yeapp.. 26 Juli lalu, rencananya kami dan keluarga besar mau refreshing ke Taman Safari-Cisarua, namun semua urung karena Jibran sakit, daripada tetep jalan namun keluarga yang ikut ga lengkap pastinya ga seru. Akhirnya rencana postponed sampe 2 Aug.

 

Selasa sore 28 Juli sore, adikku aka Mama Tika email, Nda, gw kayanya kena cacar air deh, udah ada beberapa benjolan kecil isi air di dada, punggung & kepala.”, hmm.. sempet ga yakin awalnya, tapi sehari sebelumnya Mama Tika udah info, ga enak badan, badan pada ngilu dan demam, malamnya ngadu lagi, katanya di seluruh tubuh muncul ruam seperti alergi.

Malam pulang dari Hermina membawa Jibran yang sakit, aku mampir ke rumah Mama Tika, katanya dia tadi ke dokter dan udah cek, ternyata dia beneran kena cacar, trus dikasih Antibiotik dan salep.

 

Waaa… panik lah aku, bagaimana tidak Jibran juga tengah sakit, sekarang Mama Tika kena varicella. Pastinya aku takut, karena rumah ku dan Mama Tika bersebelahan. Langsung ilmu sehat keluar dan segala macam aturan kusampaikan. Demi anak2 mau ga mau Mama Tika kudu dikarantina sementara waktu. Awalnya Mama Tika kepikiran mau dikarantina di RS aja biar bisa dirawat lebih intensif , namun rencana tsb urung, karena dia ga tega jika harus berjauhan dengan Kyosha. Akhirnya diputuskan untuk karantina di rumah aja, namun dengan konsekuensi benar2 harus karantina dalam kamar, ga bersentuhan sementara waktu dengan anak2 (Kyo & Jibran). Manggil Mbah Uti dan Abah, minta bala bantuan untuk sementara waktu dirumah.

Kusodorkan pula file tentang varicella, buku Pintar dokter Wati, dan semua informasi tentang varicella. Kutegaskan kembali karena Varicella penyebabnya virus so AB tidak dibutuhkan, yang terpenting justru makan asupan yang bergizi, tetap mandi, dan sementara waktu semua peralatan makan & baju dipisah, stop memberikan ASI dulu, namun ASI tetap diperah, agar ASI tetap lancar. Untungnya stok ASI Mama Tika banyak, jadi sementara dia sakit, Kyo mimi ASI pake ASI stock.

 

Rabu 29 Juli, Kyo rewel, dia mencari mamanya. Ga mau mimi ASIP, nangis ga berhenti-henti, Mama Tika dari dalam kamar ikutan nangis, dia ga berani keluar.

 

Kamis 30 Juli, Kyo sudah ga terlalu rewel, mulai mau mimi ASIP, sementara Mama Tika masih dikarantina di kamar, benar2 tidak keluar kamar, semua dilakukan dikamar termasuk mandi, kebetulan kamarnya ada kamar mandinya.

 

Jumat 31 Juli, Mama Tika demam tinggi, tubuh menggigil, ngilu2 semua, katanya badannya ga keruan rasanya. Dia hanya berani minum panadol untuk mengurangi sakitnya. Mama Tika hebat, disaat sakit justru makannya makin banyak minum susu sehari bisa 1 liter, meski mulut pahit dia mencoba dan tetap maksa untuk tetap makan, ingin cepat sembuh pastinya. Doping jeruk dan jambu merah makin diperbanyak.

Semua cacar sudah keluar, wajah, punggung, perut semuanya dipenuhi gelembung cacar. Anak2 semakin diawasi, sementara waktu Kyo lebih banyak tinggal di rumah Jibran.

 

Sabtu 1 August, semua tubuh sudah rata  gelembung cacar, namun sebagian sudah mongering. Demam sudah turun. Alhamdulillah….

 

Minggu 2 August, cacar benar2 sudah mongering, meski begitu anak2 tetap dijaga, apalagi Jibran juga baru recovery. Mama Tika hebat, dia sadar diri, benar2 ga keluar kamar, aku bisa merasakan pastinya BT di kamar terus2an, namun another choice, semua demi kepentingan bersama. Perah ASI jalan terus.

 

Senin 3 August, cacar benar2 sudah mongering total, mulai berani keluar kamar, namun belum berani menyentuh Kyo. Persediaan ASIP mulai menipis. Kyosa mulai sumeng, rewel lagi, aku ikutan panik, kahawatir Kyo ketularan. Minta si mba buatin air kencur lalu diminumkan ke Kyo.

 

Selasa 4 August, alhamdulillah Kyo sudah tidak sumeng, Kyo mulai batuk dan pilek. Aku buatkan apel kukus yang dilumatkan untuk mengobati batuknya. Sementara Mama Tika sudah benar2 sembuh dari cacar, namun masih belum berani mendekat ke Kyo, karena kondisi Kyo lagi ga fit. Duhhh… pastinya Mama Tika kangen banget 8 hari hanya bisa melihat Kyo dari kejauhan, ga bisa meluk, ga bisa gendong apalagi menyusui….

 

Rabu 5 August, Mama Tika mulai ngantor, karena pekerjaan kantor ga mungkin di tinggalkan lama2. Kondisi Kyo pun mulai membaik. Alhamdulillah…..

 

Kamis 6 August, horeee…. Akhirnya Mama Tika udah benar2 sembuh. Setelah 10 hari memendam kangen dengan Kyo, tadi pagi mulai bisa gendong Kyo lagi, mulai bisa menyusui lagi. Alhamdulillah….

 

Sungguh pelajaran yang “amat berharga” dan satu kebanggan tersendiri untuk kami, dan Mama Tika kususnya, bagaimana tidak disaat dirinya kena cacar, dilingkungan rumah ada 2 bayi yang mana kondisi Kyo dan Jibran juga lagi drop.  Virus cacar sangat mudah menular, namun berkat keteguhan dan kedisiplinan Mama Tika, dan kerjasama semua, akhirnya virus itu tidak menulari yang lainnya termasuk anak2. Kyosha dan Jibran memang belum imunisasi Varicella, kenapa?? Karena jika menurut rekomendasi jadwal imunisasi dari IDAI Varicella diberikan pd usia 10-12th sedangkan menurut WHO-CDC-AAP diberikannya pd usia 12 bln. Namun karena pengalaman ini, anak2 sudah aku jadwalkan akan diimunisasi bulan ini. Semoga tidak ada halangan….

 

[Info] kampanye Maximizing You: 10 Years of MagniVicent Satisfaction - Couple Yoga @ Fitness First -

Dear teman2 MP,

Fyi

Sebagai bagian dari rangkaian kampanye Maximizing You: 10 Years of MagniVicent Satisfaction, Pfizer Indonesia mengundang Anda berpartisipasi pada kelas 'Couple Yoga' di outlet Fitness First pukul 18.00 WIB (registrasi mulai jam 17.00 WIB) dengan jadwal berikut:

Jika Anda menghadiri perayaan Maximizing You: 10 Years of MagniVicent Satisfaction hari Sabtu lalu di The Sultan, mohon bawa serta voucher Fitness First yang telah Anda terima di dalam goodybag. Jika tidak dapat menunjukan voucher, mohon sebutkan "Maximizing You" di frontdesk Fitness First.

Kelas ini diadakan secara cuma-cuma, mohon datang tepat waktu mengingat kelas ini memiliki kapasitas terbatas.

Bagi yang berminat mohon PM ke aku beserta alamat emailnya ya...

salam

//dizna

Tuesday, August 4, 2009

Gara-gara PeLor…

Malu banget, sumpah deh malu banget sama kejadian pagi ini saat berangkat kantor dan kemarin malam pas balik kantor. Duhhh..... masih pake diketawain pula lagi. Lengkap banget deh.

Ceritanya kemarin malam pulang kantor, seperti biasa aku naik bus langganan, bus nya lumayan nyaman ber-AC dan ada TV nya.  Seperti biasa, aku pasti cari tempat duduk barisan depan, biar gampang turun, nah kemarin aku dapat duduk di barisan no 2 dari depan, yang 3 bangku, aku duduk lah ditengah karena di pojok dekat jendela udah ada seorang Ibu. Semalam tuh jalanan tol wiyoto Wiyono lumayan padat dan crowded.

 

Mulai di jalan LetJen Suprapto, mata ini udah berasa ngantuk dan bawaanya mau tidur mulu, kucoba tahan dengan nonton tv, berita tentang liputan meninggalnya Mbah Surip.

Masuk Cempaka Mas arah jalan Ahmad Yani, mata2 ini benar2 ga bisa diajak kompromi, tertidurlah aku. Meski ga nyenyak alias tidur ayam. BT dengan jalanan yang macet, aku lanjutkan lagi tidurku, tiba2 terbangun sudah di tol kampung rambutan. Hmm.. jarak kampung Rambutan dan pintu keluar cibubur kan dekat ya, tapi aku masih cuek dan tidur lagi zzzzz… dasar.

Tiba2 samar kudengar kenek bersuara, “jamboree..jambore.. jamboree.. siap2 turun.” Biasanya kalo kenek udah bilang begitu aku siap2 turun, nah tadi malam tuh aku kok ga beranjak dan tetep aja tidur. Namun seolah ada yang menyadarkanku, aku kemudian terbangun, dan menoleh kanan kiri, hah, ini kan dah lewat Jambore, duhh.. berarti aku kebablasan. Spontan aku teriak, “Bang… stop.. aku mau turun.” Si kenek rupanya sudah hapal dengan aku, dia menjawab ga kalah teriak, “Loh Bu, kok tadi di Jambore ga turun, ketiduran ya.. hehehe..” sambil ketawa pula. Deuuuu.. nyebelin.

 

Kadung malu aku belaga ber alibi, “Siapa yang ketiduran, wong aku mau mampir ke ATM BCA dulu kok.” Si kenek jawab lagi, “ATM BCA mana Bu?” “ATM BCA jamboree lah.” Jawabku.

“Yeee.. si Ibu gimana sih, kan ATM Jambore udah lewat daritadi.” Hah…duhh.. jawabanku keliru ternyata jadi tambah malu. “Ya udah aku turun disini aja, pinggir bang.”

Kemudian aku beranjak turun dari bis, ehhh.. sempet2nya si kenek nimpali lagi, “Hati2 ya Bu, jangan ketiduran lagi ya.” Hgggkk… dasar kenek rese….. Udah tau aku malu masih digodain L

 

Tadi pagi pun terulang lagi. Saat perjalanan berangkat ke kantor seperti biasa aku naik jemputan. Lagi2 mata ini ngantuk berat, tertidurlah aku sepanjang perjalanan. Saat lintasan kereta api di stasiun Senen aku terbangun. Wadduhhhh lama bener  ya tidurnya  dari Cibubur sampe Senen J

Meski tersadar sudah sampe Senen yang artinya bentar lagi harus turun aku cuek aja malah nerusin tidur. Sampai depan hotel Oasis Amir harusnya aku turun, tapi aku ngga nyadar karena masih tertidur. Wuri temen barenganku yang 1 kantor dengan aku juga tumbenan ga bangunin aku dia malah turun sendirian. Lohh…

Tiba2 aku merasa bahuku dicolek, dan pas aku melek ternyata si kenek sudah didepanku, “Bu kok ga turun, mau ikut jemputan sampe mana?”
“Hah?” Reflek aku langsung berdiri dan minta turun.

Di bawah kulihat si Wuri malah ketawa2 ngeliatin aku. “Sorry Mba, aku pikir Mba Diz ngikut turun juga, aku ga tau kalo Mba ketiduran.” Tukas Wuri.

“Nyebelin loh, baru tadi malam gw ketiduran pas pulang jadi bablas, eh pagi ini gw ketiduran lagi, elo malah diem aja bukan bangunin gw.” Sahutku…

 

Sampe kantor aku tuh masih mikir, kok bisa2nya sih aku ketiduran mulu di bus. Pelor* banget ya?

Kejadian ini udah kesekian kali loh. Entah kenapa, kalo di bus atau angkot aku tuh tipikal orang yang gampang banget tidur, sampe nyenyak malah, makanya sering banget kebablasan. Kebayang ga sih tidur nyenyak di bus? Hahaha.. pasti tampangku jelek banget deh.

Dulu waktu hamil Jibran, aku malah pernah ketiduran di angkot, bangun2 dah sampe terminal. Parah banget yaa?? Makanya aku ga berani deh naik bus sembarangan kalo bukan bus langganan or jemputan, takut ketiduran or kecopetan.

Tapi anehnya kalo naik mobil sendiri aku malah jarang tertidur, enatah kenapa? Kayanya feel aku malah ok di angkot or bus deh, bukan di mobil Pribadi. Hehehehe….

 

*PeLor = Nempel Langsung Molor, haha...

 

*catatan Bunda bikin malu... Aug 05, 09

Monday, August 3, 2009

PR berikutnya….

 Semenjak diketahui HB Jibran rendah, semenjak itu pula aku ‘baru’ browsing dan cari tau dari segala macam sumber tentang apa itu HB rendah, penyebab, dan resikonya.

Ayah bilang, “terkadang seseorang tersadar dan baru mencari tau jika ada sesuatu yang menimpanya, merasa bahwa selama ini semua yang ada baik2 saja, padahal sesungguhnya belum, sehingga hal2 kecil kadang luput dari pengamatan.” Duhhhh… ayah.. jarang bicara tapi sekalinya berpendapat, dalaaaammm banget…. bak godam.

 

Sakit Jibran justru sebagai pelajaran berharga buat kami (aku dan suami). Awalnya memang sedih, sempet nangis bombay, dan selalu muncul pertanyaan, “kenapa harus Jibran?” Flash back ke belakang, aku ga kurang2nya jaga kondisi Jibran mulai awal kehamilan bahkan sampai Jibran lahir. Segala macam nutrisi, sumber makanan yang bergizi aku lahap, demi kesehatan calon buah hati kami. Begitu dihadapkan pada keadaan yang Jibran alami sekarang, sungguh aku ga siap dan ada perasaan ga terima. Alhamdulillah ayahnya Jibran senantiasa mensupport aku, “kalo Bunda down, Jibran akan lebih down, suka atau tidak, kenyataanya sudah terjadi, dan harus diterima dan dihadapi dengan lapang dada dan ikhlas, Insya Allah jika semua dihadapi dengan ikhlas, pasti hasilnya juga baik, yang penting jangan putus berusaha dan berdoa, ingat bunda Ikhlas ya, anak itu titipan Allah.” Hggkk.. lagi2 tentang ilmu ikhlas…

Ucapan ayah sungguh mengena, aku harus kuat dan menerima semua dengan lapang dada dan terus berusaha.

 

Selain ayah, sempet pula aku curhat dengan mama naura (mba menique)  sungguh aku salut dengan mba menique , blio sangat2 dewasa dan bijak menyikapi kondisi Naura yang memiliki kesamaan dengan Jibran. Selain info dan pengalaman Mba Menique, banyak juga kata2 dan nasehat Mba Menique yang membuatku yakin, semua itu cobaan, bukan untuk disesali atau ditangisi, namun untuk dihadapi. Sms dari mba menique diantaranya yang masih aku simpan : “Perjalanan anak2 kita masih panjang, jangan karena ada masalah kesehatan lantas jadi akhir perjalanan mereka, ini baru 1 masalah aja dalam hidup mereka, kalo kita udah nyerah, kasian anak2, karena kita sumber kekuatan mereka, jika kita yakin dan buat mereka kuat, Insya Allah mereka pasti kuat.” Sungguh, kata2 Mba Menique membuka mataku.  Once, thank you Mba Menique, I luv u

 

Alinea diatas pembuka, dan jadi penyemangatku. Makanya aku tulis, biar jadi remind aku.

Nah… tadi pagi, aku masak menu u/ Jibran kali ini, sup daging plus bakso buatanku ditambah telur ayam kampung + telur puyuh rebus. mami deven juga bilang, kalo daging merah ini banyak mengandung zat besi dan baik untuk kesehatan. Alhamdulillah, Jibran sangat mengerti kondisi Bunda nya yang sedang H2C, pagi tadi jam 6, telur ayam + telur puyuh yang kusediakan langsung dimakannya. Berikutnya pk. Setengah 7 sesaat aku mau berangkat ngantor, Jibran minta makan, kali ini dengan sup dan mie (ga mau nasi) akhirnya dimasakin mie telur AA. Dan 1 mangkuk sup + mie telor, habis tak bersisa, yipieee…. Alhamdulillah, thank you ka Ibang, I luv u, nak….

Ini nih gambar menunya :

 

  

Selain daging merah, Jibran disarankan juga untuk minum juice buah Beet (Bit) oleh Mbah tetangga depan rumah. Katanya buah Bit bagus untuk mereka yang darah rendah. Hmm…. Namun sebelum nyari buah Beet, aku sempetin Tanya sama om google dulu, khasiat dan manfaat buah Beet, salah satunya buah Beet mengandung asam folat yang tinggi dan baik untuk menstabilkan tekanan darah. Akhirnya hunting buah beet di SPM, tapi di beberapa SPM yang aku datangi buah yang kucari ga ada, namun alhamdulillah di SPM terakhir rejeki Jibran, karena aku dapat buah yang kucari.

 

Awalnya bingung gimana nyajiinnya, kepikiran di juice tapi Jibran kan ga begitu doyan juice, akhirnya, buah tsb aku kupas, potong2 trus aku parut pakai parutan keju, kukus sebentar, selanjutnya aku saring, air buah beet itu yang aku berikan ke Jibran. Meski dengan sedikit pemaksaan awalnya. Belakangan Jibran cooperative dan nurut begitu disodorkan ke mulutnya. Alhamdulillah… sambil aku bisiki,“ kita sama2 berusaha ya, Ka Ibang mau sehat kan, jadi ka Ibang mau ya mimi ini." Dijawabnya dengan anggukan kepala. Spontan mak nyess…. Meski tanpa suara, anggukan kepala Jibran cukup membuatku terharu.

 

Seperti ayah bilang, berusaha dan tetap melakukan yang terbaik, amien…..

Sunday, August 2, 2009

Hobby baru yang ga boleh dibiarkan..

Hmm... sebenernya malu nih posting tentang hobby baru ini. Hobby ini baru aku ketahui belakangan dan beberapa hari ini. Hmmm... kalo udah sibuk dengan hobbynya, wuiiihhh.. bisa ga noleh2 dan ayik sendiri deh.

Sebenernya yang punya hobby baru ini bukan aku, tapi jagoanku tak lain Jibran. Hobbynya itu adalah (maaf sebelumnya..:p) yaitu 'ngupil', orang sunda bilang mah 'ngorong'. Duhhh... kok bisa sih Jibran hobby ngorong? Entahlah, yang pasti, hobby ini luput dari pengamatanku, justru ayah yang ngasih tau, dan setelah aku perhatikan dibeberapa kesempatan, ternyata bener, entah itu lagi main, lagi nonton tv, atau lagi makan sekalipun, bisa2nya Jibran nyempetin dengan hobby barunya itu. Menurutku hobby ngorong ini ga boleh dibiarkan, takut jadi kebiasaan, makanya beberapa kali kalo Jibran kepergok lagi 'ngorong' pasti akan aku tegur, pesan yang sama juga aku sampein ke ayah dan orang rumah.  

So far sih, belum ada hasil yang significant, terbukti Jibran masih sering kedapatan 'ngorong' tuh. Tapi aku dan keluarga ga bosen2nya negur Jibran. Mudah2an ga jadi keterusan deh...

Berikut beberapa hasil jepretan Bunda, tentang Jibran dan hobby barunya itu...

Nah kalo abis ditegur pasti Jibran spontang langsung pamer bibirnya seperti ini nih....

atau seperti ini....

ampunnn......

Bakso Keju Ayam Sapi


Description:
Ini adalah bagian dari PR aku, bikin sekreatif mungkin agar Jibran mau makan. Salah satu jenis makanan yang harus banyak Jibran konsumsi untuk menaikan HB Jibran salah satunya adalah mengkonsumsi daging sapi merah atau has dalam. Kalo daging sengaja dibuat sup, Jibran ga begitu doyan, makanya aku coba buat menjadi bakso.

Jibran paling doyan sama bakso, meski begitu aku jarang beri dia bakso, kalopun aku kasih bakso pasti bakso 'beli jadi', terus terang ada perasaan bersalah jika sering2 memberi dia bakso beli jadi.

Karena itulah weekend lalu aku coba buatkan sendiri bakso untuk Jibran.
Meski coba2 dan baru sekali, namun cukuplah untuk pemula, terbukti Jibran habis 5 sekaligus. (Horeee...)
Padahal penampakan dari bakso tsb jauh... dari sempurna loh, karena bentuknya ga bulat, ga beraturan dan banyak seratnya.
Iya lah.. kalo bikin sendiri kan lebih banyak daging nya dibanding sagunya...
Peminat berikutnya setelah Jibran adalah ayah, dan ayah bilang, enak, terasa banget daging n kejunya. Cuma kalo untuk lidah ayah, blio ga terlalu suka rasa kejunya. hehehe... ya maap yah, bakso ini kan emang untuk Jibran... :p

Untuk teman2 MP, silahkan coba ya, semoga bermanfaat dan bisa jadi alternatif makanan u/ si kecil.

Ingredients:
100 gr daging sapi giling
100 gr daging ayam giling
50 gr sagu
1 1/2 sdt garam
1 siung bawang putih dihaluskan
1sdt merica bubuk
Keju Kraft (secukupnya)
Air es (secukupnya) (aku sih kira2 aja, sampe adonan bakso bisa dibentuk.)

Directions:
1. Campur daging giling sapi + ayam hingga tercampur rata, lalu masukkan keju kraft yang telah diparut, aduk rata lagi.
2. Kemudian tuang daging yang telah tercampur ke dalam bowl, campur sagu dan bumbu, dituangi air es sedikit demi sedikit, aduk rata, sampai adonan bisa dipulung.
3. Masukkan adonan bakso kedalam panci yang berisi air mendidih.
Bentuk pakai sendok, besar bakso sesuai keinginan masing-masing.
4. Rebus selama kurang lebih 20-30 menit, lalu angkat dan taruh bakso diatas saringan kemudian siram lagi dengan air dingin agar tidak lengket.
5. Bakso siap disajikan