“Yah aku nyusul Kaka ya?”
Lain waktu, “Bund… kita tidurnya disini aja deh, kasian Kaka sendirian.”
Berikutnya, “Ayah ngapain disini? Ini kama(r) Kaka, ayah bobonya disana sama Bunda.” Atau, “Kaka be(ra)ni kok Bunda bobo disini, udahhh.. Bunda sama ayah aja, ini kama(r) Kaka.”
Hikss…. Itulah percakapan2 kami selama 2 malam ini, sejak si Kaka yang akhirnya berani dan memutuskan akan tidur di kamarnya sendiri. Jujur perasaan ku campur aduk saat dihadapkan pada kenyataan ini. Lebay kah? Berlebihankah ini? Nope…. Buatku ini wajar dan teramat wajar. Sedih iya, bangga iya, semua benar2 campur aduk menjadi satu.
Masih ingat beberapa waktu lalu aku posting tentang gimana aku punya keinginan untuk “memisahkan” Jibran untuk tidur di kamarnya sendiri, kamar yang memang sudah kami siapkan di rumah yang sekarang kami tempati. Kamar yang sengaja kami design khusus, connecting dengan kamar kami, dengan tujuan agar kami tetap bisa memantau, dan ga perlu keluar kamar untuk mengecek si Kaka, cukup buka connecting nya aja maka dari dalam kamar Utama kami, kami tetap bisa melihat si Kaka.
Dan.. ketika tiba saatnya, saat dimana pada akhirnya dengan dewasanya si Kaka memutuskan dan bilang, “Bunda… seka(ra)ng Kaka mau bobo di kama(r)Kaka aja, Kaka be(ra)ni kok.”
Reaksi pertama saat mendengar request Jibran, aku senang, bahagia, dan bangga, namun ketika malam itu benar2 jadi kenyataan, saat kami bertiga seperti biasa leyeh2 setelah sholat Isya, cuci kaki dan sikat gigi, bercengkrama di tempat tidur, di kamar kami Ay-Bund nya, dan siap2 tidur setelah baca doa, tiba2 si kaka mengeluarkan kaat2 tsb. Sontak aku dan ayah saling berpandangan seakan ga percaya. Namun dengan ‘jaim’nya kami berkata, “Wuaaa… hebat anak Bunda, okay… Bunda sama Ayah antar Kaka ya, Bunda saya ayah nemenin sampe Kaka bobo, nanti Bunda sama Ayah baru pindah ke kamar bunda.”
“Ga usah Bunda, Bunda sama Ayah bobo aja disini, Kaka aja yang pindah.” Tolak si Kaka
Ha?? Aku dan ayah kaget pastinya.. ga menyangka penolakan tsb. Dan kenyataannya si Kaka keukeuh jumekeuh ga mau ditemenin, dan kami pun ‘merelakan’ si kaka beranjak ke kamarnya sendiri, kulihat dia komat –kami, baca doa, kemudian ambil posisi, meluk guling, dannn…. Ga pake lama si kaka pun udah pulas.
Amazing.. subhanallah….. aku dan ayah benar2 takjub dibuatnya. Penasaran kuintip si kaka dikamarnya, dan benar si kaka udah pulas.
Akhirnya malam itu aku dan ayah serasa pengantin baru, benar2 tidur berdua. Sempet aku mellow dan meneteskan air mata dan berujar, “Yahhh…. Kenapa Bunda jadi mellow gini, rasanya baru kemarin Jibran bayi,sekarang anak yang kususui kemarin udah besar, belum puas yah aku meluk2 Jibran, belum 4th usia si Kaka.”
Ayah ga berkomentar apa2, hanya menatapku, kurasa ayah merasakan apa yang aku rasakan ini.
Tengah malam tiba2 aku dikejutkan oleh sentuhan tangannya, “Bunda… Kaka mau pipis..” Ho-oh.. rupanya si Kaka kebelet pipis dan menyusul aku, segera kuantar Kaka ke kamar mandi yang letaknya ada di dalam kamar menghubungkan antara kamar kami dan kamar jibran. Selesai pipis aku antar Kaka ke kamarnya, “Udah Bunda kesana aja, Kaka be(ra)ni kok ke kama(r) sendi(ri).” Tolak si Kaka. Hiksss, mellow lagi…. Kesekian kalinya ditolak.
Dan tadi malam menjadi malam ke dua aku dan ayah tidur tanpa si Kaka. Lagi2 kami menerima penolakan saat kami berdua mencoba menemaninya tidur di kamarnya. 1 yang pasti kami berdoa mencoba commit dengan apa yang sudah kami sampaikan ke Jibran meski sebenrnya kami ga siap, yakni, permintaan kami dan sounding kami selama ini bahwa “Kaka udah besar, Kaka bobo sendiri.. bla..bla…”
Kumencoba mengingatnya, kenapa tiba2 si kaka siap dan mau tidur dikamarnya sendiri. hmm.. sepertinya bermula dari usahaku juga selain sounding tentunya, tapi juga mendukung kesiapan Kaka dengan membelikan sprei karakter kartun favoritnya. Menjadikan kamarnya nyaman, di luar tepat disamping jendela kamarnya, ayam kecil piaraan si kaka kerap kali ngendon di situ, dan dari dalam kamarnya si kaka bisa leluasa memperhatikan gerak gerik ayamnya itu melalui jendela kamar yang dibuka.
Aktivitas belajar dan mendongeng juga kerap kali dilakukan bukan lagi kamar kami namun dikamar Kaka. Sepertinya proses tsb lambat laun membuat si kaka pede dan yakin bahwa sudah saatnya Kaka mennempati kamarnya ini. Dan ketika kedewasaan dan saatnya tiba, tanpa diduga aku yang ga siap.
Tadi pagi jam 3 dinihari aku terjaga, setengah sadar saat terbangun aku ga lihat jibran disebelahku, aku kaget, sesaat kemudian baru aku sadar kalo Jibran kan udah tidur di kamarnya sendiri. Ga tahan akhirnya aku susul Jibran dikamarnya, kulihat Jibran masih pulas dengan posisi pewenya meluk guling, hikkss…. Ga terasa air mataku netes, kukecup pipi chubby si Kaka, bertubi- tubu kuberikan kecupanku ke seluruh tubuh mungil si kaka. “Kaaaa… Bunda kangennnn…” bisikku ditelinga si kaka.

"Kaka dan posisi favoritnya...
"
Mellow-swallow diri ini. Perasaan yang sama ketika aku berhasil menyapih Okt 2009 lalu, berasa ada yang hilang, ga siap, ga rela dan ga mau. Waktu berjalan demikian cepatnya… little Jibran kami sudah bukan baby, bukan batita, tapi balita, dan bentar lagi anak2…
So… selamat menikmat me time bersama ayah tanpa gangguan atau tendangan2 kecil dari si Kaka, bebas berpelukan tanpa pembatas lagi… horayyy…..yuk.. lebih giat bikin "PR" malam 
aihhhh.. semoga aja hikmahnya bulan ini aku positif.. amin…… J *ujung2nya teteupp.. ngarep……. Hihi….