Gara2 obrolan tadi siang dengan temenku pas lunch, lagi2 tentang Tantrum. Jadi ceritanya, anaknya temenku ini usianya hampir 3,5th, dia cerita kalo belakangan anaknya suka ngamuk, ngambek dan fatalnya lempar2 barang, dan kalo nangis sampe jerit2.
Hooo….. kebayang senewennya deh.
Tapi mau gimana, kan emang ada masanya anak tantrum, ga bisa dilarang2 juga, tinggal gimana kita ngadepinnya.
Alhamdulillah Jibran udah melewati masa itu semua, tantrum?? Ya pernah lah, tapi Alhamdulillah tantrum nya Jibran masih wajar ‘menurutku’, ga sampe ngamuk2, ga sampe guling2 (pernah sih sekali), kalo ngambek sih iya, marah2 iya, tapi masih bisa ditolerir lah. Dan biasanya kalo dia lagi ngambek ato pundung istilah sundanya, biasanya sih aku ato ayah ato siapapun di rumah udah kami wanti2 untuk membiarkan sejenak dia ngambek, membiarkan dia meluapkan kemarahannya, sisanya ya dicuekin dulu sejenak, baruu… setelah keliatan marahnya dah reda, keliatan dia dah tenang, barulah kita deketin, baru deh diajak bicara. Langsung manjur?? Hihi.. ya sekali dua kali ngga lah, malah sering juga malah makin merajuk, ya sud, biasanya lagi2 kami diemin aja dulu, nanti kalo dah keliatan tenang, didekati ‘lagi’.
Tapi beda anak emang beda penanganannya, karena cara kami diatas mempan untuk meredam tantrum nya Jibran, begitu cara kami ini dipake untuk meredam tantrumnya Kyosha, hasilnya?? Gagal, ho..oh… kenapa?? Yuapp.. karena saat Kyo tantrum kadang dia lebih extreme, ga jarang bahkan melempar barang, diikuti dengan lengkingan tangis yang keras, arrghh… asli bikin senewen. Kalo ga kuat2 sabar yang ada pastilah aku lost control dan ikutan ‘tantrum’ dan marah2 juga. Hiksss… akhirnya ya pastilah nyesel.
Belajar dari situ maka ketika masanya Kyo tantrum, hal yang aku lakuin adalah ngediemin dulu, membiarkan dia ngambek dan nangis, jika kedapatan dia melempar barang, biasanya mainan nya yang dia lempar2,
dulu2 waktu pertama sih begitu liat Kyo ngambek dan ngelempar mainannya reaksi kami adalah langsung memungut mainan yang dia lempar, bukan apa2 kami sayang liat mainan dia dilempar2 seperti itu yang pastinya jadi rusak, tapi… ternyata ini keliru, karena yang ada Kyo makin jadi, makin ‘semangat’ ngelempar2 mainan lainnya, analisaku karena dia merasa karena ngambeknya direspon oleh kami, akhirnya dia makin jadi, so berikutnya kalo dia ‘mulai’ ngambek dan ngelempar mainannya, reaksi kami adalah nyuekin, dan membiarkan dia melempar mainannya tsb sambil tetep merhatiin kalau2 barang ato mainan yang dilempar membahayakan ato mengandung pecahan kaca atau beling.
Alhamdulillah dengan reaksi kami nyuekin dan membiarkan dia melempar mainannya itu tanpa merespon apapun, hasilnya cukup efektif, sekarang frekuensi Kyo kalo ngambek dan melempar mainan jauhhh berkurang, ga enaknya, mainan nya dia jadi hancur dan kalo udah gini kejadiannya, biasanya pas keliatan Kyo mulai tenang kita ajak bicara, kita perlihatkan hasil mainan yang dia lempar tadi, kita kasih liat kondisinya, ho..oh.. terbukti ampuh… keliatan dia nyesel karena akhirnya ga punya mainan lagi. Dan kami juga konsekuen ga mau beliin mainan serupa seperti yang udah dia lempar.
Pernah juga kejadian sama Kyosha, saat diajak ke Indomart, banyak barang yang diminta, dia minta Ice Cream, oke kita turutin, dia minta biscuit okeh kita turutin, tapi kemudian ketika dia minta lagi dan kali ini mintanya permen sugus, ho..ho… nanti dulu, jelas kami ga setuju. Kami Kasih tau kalo permen ga sehat, dan kami ingetin kalo dia udah punya 2 jenis makanan yaitu ice cream dan biscuit, reaksi Kyo begitu permintaan permen, kami tolak, wuaaa.. dia ngamuk, kemudian nangis dan jerit2, jujur, aku sebenrnya ga nyaman dengan situasi itu apalagi ini di tempat umum, tapi kami mencoba ‘tega’ dan membiarkan dia nangis, begitu tau permintaannya ga direspon oleh kami, tangisnya makin kenceng, lagi2 meski kami ga nyaman, tapi kami ‘tega2in’ berani malu diliatin orang dan pastinya dianggap tega ama anak kecil, ahh.. sebodo, toh yang tau situasi adalah kami, dan Kyo bukan siapa2 mereka.
Sampai dikasir permintaan Kyo tetep ga kami gubris, meski dia masih nangis, bahkan dalam perjalanan pulangpun dia masih aja nangis, lagi2 kami diemin… Begitu sampe rumah dia cape dan akhirnya ketiduran, dan ketika bangun tidur, dia udah lupa sama ngambeknya tadi, ho..ho… polosnya kamu nak…..
Tapi bukan berarti kami melupakan kejadian itu, kami ajak bicara lagi kami ingatkan lagi sikap dia tadi di indomart gimana, kami beritau kalo mau minta sesuatu ga begitu caranya, hmmm bismillah deh….. melalui bahasa yang sangat sederhana kami berdoa semoga kyo mengerti.
Berikutnya saat diajak ke Indomart dilain waktu, surpriseee… dia ga minta macam2 barang lagi, minta 1 jenis makanan aja, ga ada tantrum ato nangis2 bombay lagi… yesss……
Begitupun dengan Jibran, pernah kejadian waktu Jibran aku ajak ke ITC ke toko kacamata, rupanya optic tsb selain menjual kacamata juga menjual mainan, mainan yang dijual berupa mobilan hot wheel.
Yang harga per satuannya amboi… mahal pastinya, reaksiku, hikss… ga mau ngebeliin, alasannya selain karena mahal (pastinya..) aku juga ga mau serta merta langsung nurutin permintaannya itu. Kontan Jibran ngambek terus nangis, kali ini parah.. bahkan dia sampe nangis sambil melantai pula, ugghh…senewen bgt rasanya, apalagi situasinya aku lagi pilih2 softlense, jadilah hari itu aku sudahi tawar menawar aku di optic dan aku pamit, Jibran bagaimana? Masih ngambek dan melantai, aku ga menggubris, sambil berjalan pelan aku tinggalin Jibran yang masih nangis, sambil sesekali aku melirik kebelakang , kulihat Jibran mengikuti aku dari arah belakang masih sambil nangis, jujur aku kesel sebenernya karena rencanaku beli softlense gagal karena Jibran ngambek.
Responku ini cukup ampuh, karena cukup sekali itu aja Jibran berlaku spt itu karena besoknya dia ga pernah ngembek ato minta2 sesuatu lagi kalau kami ajak berbelanja, even hanya ke Indomart dia pasti akan izin dulu, “Bunda, kaka boleh beli ice cream ga??” Alhamdulillah…
Mungkin buat sebagian orang aku dibilang tega, tapiiii… inilah prinsip kami dalam mendidik anak. Biarlah mereka mau bilang apa.. (hihihi… kaya lagu ajahh..)
Buat kami yang terpenting si anak bisa mengerti dan kapok bertingkah ato ngambek2 bahkan nangis melantai, karena toh kami ga merespon mereka…
Yuapp.. jawaban u/ curhatan temenku tadi, jujur ga bisa kasih nasehat apa2 karena sekali lagi, aku khawatir keliru dan dianggap sok tau, dan lagi tiap2 anak kan beda2 ya, yang pastinya beda pula penangannya, cukup lah buatmu dears, aku coba berbagi disini, tentang pengalamanku ngadepin anakku yang tantrum, semoga aja bisa member manfaat meski itu sedikit… okss dehhh…

Penanganan Temper Tantrum dan Marah
- Frekuensi temper tantrum atau mengamuk bisa dikurangi dengan cara menghindari pembatasan yang berlebihan terhadap kebebasan anak, tuntutan yang berlebihan atau pemberian tugas yang diluar kemampuan anak.
- Orangtua sebaiknya tidak bersikap sewenang-wenang dan tidak selalu memegang teguh sikap-sikap yang keras dan kaku dalam mengasuh dan mendidik anak.
- Dalam mengasuh dan mendidik anak-anak haruslah bersikap konsisten atau ajeg, namun tetap penuh kasih sayang, sebab dengan keajegan memungkinkan anak belajar dari pengalaman-pengalamannya.
- Kebiasaan yang sifatnya mengamuk sebaiknya diperlakukan dengan wajar dan tenang. Dimana khususnya orangtua diharapkan terus menerus bersikap tenang, kalem, tidak mudah terpancing untuk jengkel dan marah, konsisten dan penuh pengertian. Usahakan mengabaikan adegan mengamuknya sehingga anak menyadari bahwa ia tidak bisa memperoleh perhatian dengan kemarahannya itu.
- Jangan sekali-kali mencoba beragumentasi dengan anak pada saat ia sedang mengamuk. Tetapi beberapa saat kemudian setelah amukannya redah baru berikan saran-saran bahwa caranya salah dan tidak bisa diterima.
--------------------------------------------------------
upssttt... punten kalo tulisannya kepanjangan.... 