Showing posts with label asisten. Show all posts
Showing posts with label asisten. Show all posts

Thursday, December 24, 2009

Sekedar mimpi...

Seumur-umur baru sekali ini aku liat kejadian kaya tadi malam. Kalo selama ini ada orang yang cerita aku ga pernah percaya, masa sih bisa begitu, lhaa...tapi akhirnya stelah ngeliat sendiri barulah aku percaya.

Ceritanya semalam qt smua ngumpul di cimanggis nginap di rumah mbah uti. Karena keterbatasan kamar akhirnya yg ga kebagian tempat tidurlah di ruang tengah, termasuk prt kami ijah & bariyah.
Tiba2 tepat pk. setengah satu malam, bariyah bikin kehebohan, tau2 dalam keadaan tidur dia bangun, lalu berjalan ke arah ruang tamu sembari bawa bantal, lhaa.. Aku n ayah jg mbah uti yg kebetulan blm tidur kaget liat kelakuan bariyah.
"Lho yah, itu bariyah kenapa?"
"Ssttt... Biar aja, kaya nya dia mimpi berjalan."
"Matanya sih merem yah, tapi kok dia bisa liat jalan ya, ga nabrak."
"Ssttt... Kita ikuti aja, dia mau jalan kemana."


Bariyah masih dalam keadaan tidur, berjalan mendekati pintu, lalu, kreekk.. kami lihat dia membuka kunci lalu menarik pintu dan kemudian setelah pintu terbuka dia berjalan ke arah luar menuju beranda depan. Lalu bantal yang dibawanya dia letakan di lantai, sesaat kemudian dia tidur di lantai beralaskan bantal. Dari arah belakang kami masih terus memperhatikan. Semenit berlalu, dua menit berlalu, terlihat bariyah benar2 tidak sadar dan tetap tertidur. Aku & ayah saling berpandangan. Kemudian ayah mendekati bariyah mencoba membangunkannya.
"Bar, bangun... Kok tidur di luar?"
Ga lama bariyah pun terbangun, dan kaget begitu sadar akan sekeliling,
"Lho, kok saya ada di luar Pak."
"Lha tadi kamu dari dalam sambil tidur jalan lalu buka pintu trus tidur disini, makanya Bapak bangunin."
Bariyah ga menjawab, tapi ekspresi wajahnya terlihat bingung begitu mendengar penjelasan ayah.

Tadi pagi aku nanya lagi ke bariyah, tadi malam mimpi apa kok tidur di luar.
"Saya ga mimpi apa2 Bund, tadi malam itu yang saya inget saya mau pindah tidur ke kamar, tapi kok malah ada di luar."
"Lho kamu ga ingat kalo tadi malam itu kamu tidur sambil jalan?"
Bariyah hanya menggeleng polos.

Hmm...aku sendiri ga ngerti, itu namanya mimpi atau apa. Yang bikin aku heran, semalam dia jalan dari ruang tengah dalam keadaan mata terpejam dan ga nabrak tembok. Kok bisa ya, padahal jarak ruang tengah ke ruang tamu lumayan jauh. Entah lah...

Adakah teman2 pernah mengalami hal seperti ini? Yuk share... :)

Monday, October 12, 2009

Uniknya Ijah sang ART.. :(

  

Tadi pagi aku dibuatnya geleng2 kepala (lagi) oleh Ijah, bagaimana tidak ini bukan pertama kalinya dia buat kesalahan di rumah. Ini kejadian pagi tadi di rumah Mama Tika.

Ijah sang ART, emang unik, meski anaknya polos namun dia punya keinginan untuk belajar dan ga malu bertanya, jika ada pekerjaan yang ku instruksikan tidak  dia mengerti Ijah tidak segan2 bertanya. Namun ada 1 kelemahan Ijah, pendengarannya sedikit kurang awas, alhasil dia sering keliru dan sering melakukan kesalahan untuk hal2 yang aku suruh, misalnya disuruh beli A eh dia malah beli B, disuruh mengerjakan C eh dia malah mengerjakan D. Yang ada kami sekeluarga dibuatnya geleng2 kepala. Sebenarnya aku ga tau apa memang hal ini gara2 telinganya rada ga dengar atau Ijah yang terlalu cepat merespon perintahku, karena sering juga terjadi aku menyuruh sesuatu dan belum selesai ngomong, eh dia udah ngibrit dan kabur untuk segera melakukan perintahku, padahal aku sendiri ga yakin nih anak beneran ngerti ngga dengan perintahku. Saking gemesnya, pernah aku ajak Ijah untuk periksa ke dokter THT, namun Ijah menolaknya, alasannya dia takut dokter, sebaliknya Ijah malah meyakinkanku bahwa dia akan lebih konsen dan focus kalo disuruh sesuatu biar ga salah2 lagi. Ok, aku hargai permintannya.

 

Sejak Ijah tidak lagi kerja di aku dan kerja di Mama Tika, aku pikir kebiasaan Ijah sudah berubah, tapi ternyata belum tuh, akhirnya kejadian lagi tadi pagi saat Mama Tika memerintahkan Ijah,

 

“Jah, tolong ya rebus telur puyuh 12 butir untuk sayur sop.”

“Iya Bu, 12 butir ya.”

“Iya”

Selang 15 menit kemudian Mama Tika ngecek ke dapur dan, terkaget2 kaget,

“Jahhhh… ini telur ayam direbus buat apa banyak banget??”
Dengan polosnya Ijah menjawab, “Loh kan tadi Ibu nyuruh Ijah rebus telur 12 butir.”

“Iya Ijah, benar 12 butir tapi yang direbus bukan telur ayam tapi telur puyuh.”

“Yaa Ibu, maaf, Ijah kira telur ayam, bukan telur puyuh.”

“Makanya kalo disuruh denger baik2 kalo ga ngerti nanya donk Neng, trus telur segini banyaknya buat apa?”

“Ya dimakan donk Bu masa dibuang” jawab Ijah polos.

“#$$@@!!!*&&^^%%....???

 

Ada lagi kejadian sebelumnya, ini terjadi saat Ijah dulu masih kerja ditempatku,

“Jah, Kaka Ibang mau makan mangga, tolong ya ambilin garpu ya.”

“Iya bu”

Ga lama Ijah datang sambil bawa sapu, aku dibuatnya bengong,

“Nih Bu sapunya.”

“Sapu buat apa Jah.”

“ya buat nyapu, kan tadi Ibu nyuruh Ijah ambil sapu.”

“Ya ampun Ijah…. Bukan sapu tapi garpu…”

“#$$@@!!!*&&^^%%....???

 

Atau kejadian ini, suatu hari ceritanya aku mau bikin pisang goreng dan keabisan terigu, kusuruh Ijah ke warung untuk beli terigu.

“Jah tolong ke warung beli terigu.”

“Iya Bu..”

5 menit kemudian Ijah kembali dari warung dengan tangan menenteng bungkusan hitam, dan setelah aku cek,

“Duh Ijahhhhh.. ini tepung sagu bukan terigu, tadi kan Ibu nyuruh kamu beli terigu.”

“Maaf bu Ijah kira sagu.”

“#$$@@!!!*&&^^%%....???

 

Kejadian berikutnya,

“Jah tolong ke Mas Kasiran (tukang sayur) beli bawang merah 1 bungkus ya”

“Iya Bu bawang merah ya..”

Ga lama Ijah kembali seraya  berseru,

“Bu uangnya kata Mas Kasiran kurang.”

“Hah kurang, kan Ibu kasih kamu 5 ribu kok bisa kurang.”

“Iya Bu, Bawang 1 kilo bukan 5 ribu.”

“Apa? Bawang 1 kilo? Kamu beli bawang 1 kilo?

“Iya Bu, 1 kilo bawang kan?”
“Iya Ijah, bawangnya udah bener tapi 1 bungkus bukan 1 kilo..”

“#$$@@!!!*&&^^%%....???

 

Mungkin Ijah belajar dari pengalaman salah beli bawang merah 1 kilo, berikutnya suatu hari aku suruh Ijah belanja ke Mas Kasiran,

“Jah tolong beli Ikan Lele 1 kilo di Mas Kasiran.”

“Iya Bu..” jawab Ijah setengah berlari setelah uang yang kuberikan diterima

Ga lama Ijah kembali sambil tangannya bawa tentengan di plastic kecil, duh.. aku udah berasa ga enak, jangan2 ni anak keliru lagi, dan..

“Bu kata Mas Kasiran, lain kali ga boleh beli Ikan Lele ngeteng. Minimal belinya sekilo, untung Ibu udah langganan sama Mas Kasiran jadi dibolehin deh.”

“Maksud kamu Jah?”

“Iya, Ibu tadi nyuruh Ijah kan beli Ikan Lele.”
“Iya trus..”

“Duh Ibu gimana sih, ini Ijah udah beli Ikan lelenya 1 ekor.”
“Hah 1 ekor? Jadi kamu beli Ikan Lele 1 ekor bukan 1 kilo?”
“Iya 1 ekor.”

“Ampunnn Ijah,,,, makanya kalo disuruh dengerin baik2, Ibu nyuruhnya 1 kilo neng.”

“#$$@@!!!*&&^^%%....???

 

Meski begitu setiap Ijah melakukan kesalahan atau keliru, Ijah akan langsung minta maaf, dan aku ga bia marah. Mana tega aku marahin dia tampangnay kalo abis salah langsung sendu gitu, duh Ijahhhh….. ampun deh.

 

Tuesday, October 6, 2009

Ketika Ijah kembali…

Bicara tentang ART emang ga ada abisnya. Pun masalah ini selalu menimpaku, kebingungan cari ART setiap tahun selalu jadi PR buatku ketika lebaran usai. Meski aku tidak sesering Mama Tika or teman2 ku lainnya yang begitu seringnya gonta ganti ART. Karena storynya di umur Jibran 2th lewat ini aku baru 2x ganti ART. ART pertama mulai ikut dengan akau di saat aku hamil muda, dan begitu usia Jibran 17 bulan dia pamit ga balik lagi karena mau nikah katanya, walaupun ternyata sampe sekarang pernikahan itu belum terlaksana, eh yang kudengar dia sekarang kerja di Kemayoran. Lalu ART kedua adalah Ijah, tentang Ijah ceritanya pernah aku posting

 

Selama Ijah bekerja di tempatku, aku dan suami sangat terkesan. Bagaimana tidak di usianya yang belum genap 14th namun Ijah sudah harus bekerja demi membantu orangtua dan adik2nya. Saat bulan Jan 09 lalu aku sempat mengantarkan Ijah pulang ke kampungnya di Sukabumi, ternyata Ijah tinggal benar2 di dusun yang jauh dari pusat kota. Letak rumahnya di atas bukit, jalanan menuju rumahnya hanya jalan setapak, kiri kanan ditumbuhi pohon2 besar, mirip tinggal di hutan. Jarak antara tetaangga bisa 100m. Wahhh… ga kebayang kalo aku harus tinggal di sanaL

Waktu Ijah minta izin pulang sebenarnya aku keberatan karena aku sudah cocok dengan Ijah, meski dia kecil tapi dia penurut, bisa nyuci, bisa bersih2 rumah dan sayang banget sama Jibran, itu yang penting. Namun apa daya aku ga bisa menahan keinginana Ijah u/ tetap stay sama aku.

 

Sepeninggal Ijah, aku belum dapat pengganti yang cocok, cari2 ART bukan perkara mudah, udah beberapa kali calon ART datang ke rumah, namun suami ku ga setuju karena ga sreg dengan calon ART tsb. Alhasil jadilah Jibran sementara dititip di  Budenya (kaka iparku)

Awalnya mau sementara saja namun alhamdulillah mungkin memang sudah kehendak Allah, kaka iparku akhirnya menetap di Jakarta u/ menemani suaminya. Lega rasanya….

 

Puasa lalu kaka iparku akhirnya kembali ke Cirebon karena mau puasa disana, aku sempet ketar-ketir memikirkan Jibran bagaimana, akan kutitip dimana? Sementara u/ cari ART menjelang puasa pastilah sulit. Allah seperti mendengar kegusaranku, dari kantor akhirnya aku memperoleh cuti besar selama 1 bulan yang bisa aku ambil pas saat bulan puasa. Subhanallah, akhirnya saat kaka iparku kembali ke Cirebon, bukan maslaah lagi Jibran harus dititip kemana karena ada aku di rumah yang menemaninya, alhamdulillah….

 

Aku pikir kaka iparku masih lama mau tinggal di Cirebon, makanya seusai lebaran buru2 aku sibuk cari ART. Semua teman aku sms, nitip ART u/ Jibran, namun belum ada hasil. Iseng aku telpon temannya Ijah menanyakan kabar Ijah, dan ga disangka begitu aku ngobrol dengan Ijah kutawarkan apakah Ijah mau kerja lagi sama aku, ternyata Ijah bersedia. Akhirnya janjian jemput Ijah ke rumahnya. Ternyata begitu Ijah berkenan kembali bekerja sama aku, kaka –ku mengabarkan bahwa suaminya akan berangkat lagi ke Jakarta dan dia akan ikut serta menemani suaminya, kaka-ku bilang Jibran bisa dititip di blio. Wahhh… aku tambah senang, meski sedikit repot harus menitipkan Jibran di Bude nya namun aku lebih tenang. So Ijah yang sudah terlanjur mau di jemput akhirnya di oper u/ adikku (mama Tika). Karena anaknya sudah mau dua, Mama Tika minta Ijah bawa temannya karena dia butuh 2 ART. Syukurnya secepat itu Ijah bisa cari teman.

 

Singkat cerita akhirnya Ijah dan temannya di jemput dan sekarang kembali bekerja bersama kami, meski bukan kerja di aku namun di Mama Tika, namun setiap hari Jibran bisa bertemu dengan Ijah yang biasa dipanggil Jibran dengan sebutan Teteh, karena rumahku dan rumah Mama Tika kan depan2an.

Sementara masalah ART terselesaikan. Mama Tika bisa tenang meninggalkan Kyosha di rumah bersama Ijah. Bukan apa2 cari ART saat ini kan bukan perkara mudah, apalagi banyak cerita serem tentang ulah ART yang sadis ke anak2. Jibran sendiri lebih “aman” diasuh dan dititip” di Bude nya.  Ayah bialng repot sedikit ga masalah yang penting anak aman dan kita bisa bekerja dengan tenang, setujuuuuu………