Showing posts with label abah. Show all posts
Showing posts with label abah. Show all posts

Sunday, October 23, 2011

[memory] kangen..


Selalu terharu dengan celetukan si Kaka, layaknya reminder buat aku-Bunda nya...hikkss....

"Bunda... ini hari Jumat kan, nanti sore kita ke makam abah kan...??"

Iyahh..rasanya baru kemarin
abah ga ada, sampe saat ini aku kerap kali merasa kangen sama abah.... namanya berdoa insya Allah tiap saat dan tiap sholat aku slalu doain abah, smoga abah tenang disana, diampuni segala dosanya, dimudahkan jalannya...

Dan...Kaka lah yang jadi teman setiaku nyekar ke makam abah...... Setiap Jumat sore selepas Kaka Bimba, aku dan Kaka langsung menuju ke makam abah...
Uti bahkan lebih sering dari aku, Uti bisa 2 hari sekali ke makam abah...
Uti bilang, dengan kita sering nyekar ke makam orang yang telah meninggal membuat kita yang hidup ingat akan mati dan Insya Allah senantiasa membuat kita semakin bertakwa kepada Allah...
















***Kaka dimakam abah masih dengan seragam TK...



                             ** Kaka dimakam abah berseragam Bimba


--Depok, Oct 23, 2011 -- kangennnnnn......--




Monday, May 10, 2010

Hari ini 11 May, setahun yang lalu…

Hari ini setahun..... yang lalu, dan berulang di hari ini. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, di hari ini Kau berikan suatu nikmat yang Maha Besar untuk kami sekeluarga, abah khususnya. Alhamdulillah tepat di hari ini 11 May,  genap 63th usia abah. Terima kasih ya Allah, ga putus kata syukur keluar dari mulut kami semua, senang sekali rasanya kami semua bisa melihat abah sehat sedia kala sama seperti tahun lalu, hanya kondisi fisik abah yang berubah sekarang.

 Genap 6bulan kurang 2 hari, yuap.. 13 Nov lalu Abah menjalani operasi colon. Sungguh operasi besar untuk abah yang ga pernah kami duga sebelumnya. Seperti pernah aku tulis, kami semua ga menduga bahwa sakit yang di derita abah sangat serius, dan kami kecolongan karena kurang peka. Namun semua mendung itu sudah berlalu, berganti dengan kondisi abah yang kian hari kian membaik. Trima kasih ya Allah, sungguh ini karunia yang besar untuk kami sekeluarga.

 

Ga percaya rasanya, jika 6 bulan lalu kami khawatir melihat kondisi abah pasca operasi. Khawatir, takut, cemas semua campur jadi satu. Cobaan yang berat ini berlalu, abah sungguh sabar dan kuat, keikhlasan abah menerima semua ini sangat membanggakan kami.

Meski di awal, kami sempat ga menerima, sulit rasanya mempercayai jika ini nyata terjadi dan menimpa abah. Dukungan dan doa teman2 di MP juga membuatku tegar. Thank you all of you, dear… luv u…

 

Setelah operasi besar tsb, akhirnya untuk pembuangan kotoran abah ditutup dan selanjutnya dibuat pembuangan kotoran baru (Stoma) di perut sebelah kiri abah. Keputusan ini diambil mengingat besar nya tumor yang ada di usus abah letaknya hanya 5cm dari anus. Maka tidak ada pilihan jika setelah operasi pembuangan tumor tsb, sekaligus mengangkat pula anus abah. Sungguh bukan hal mudah untuk menerima kenyataan ini sebelumnya. Untuk beberpa waktu kami memberi tau abah bahwa stoma ini sementara saja, semua atas pertimbangan melihat kesiapan abah menerima kenyataan ini. Butuh proses yang panjang sampai akhirnya abah pasrah dan menerima kondisi inilah yang terbaik untuk abah karena inilah yang terbaik u/ kesehatan abah. Mendatangkan ustad untuk memotivasi dan menyiram rohani abah dengan sentuhan kalbu, mendatangkan Om yang kebetulah mantri kesehatan, membawa orang yang mempunyai penyakit serupa dengan abah dan juga menggunakan stoma pasca operasi.

 

Alhamdulillah, semua hal itu sudah lewat, kini abah sudah bisa tersenyum lepas, dan tidak lagi menganggap stoma adalah sesuatu beban dan satu kekurangan. Meski begitu bukan berarti abah ga sensitive, kadang2 sensitive itu masih muncul, karena stoma permanent ini mengharuskan abah bolak balik ke kamar mandi dan berhati-hati agar kantung tampungan kotoran tsb tidak penuh dan mengganti dengan yang baru sebelum keburu penuh.

 

                                                       (perlengkapan kantong stoma abah)

Awal mula keluar dari RS, abah pakai perawat untuk membantu penggantian kantung stoma dan mengurusi abah, seperti sudah diatur, 2 minggu menjelang pension Uti, perawat abah mengundurkan diri karena mau ke kerja di Jepang, selanjutnya Uti lah yang mengurus  Abah, perlu waktu yang ga sebentar pula untuk mengajari abah bisa mengganti kantung stoma itu sendiri sampai akhirnya sekarang abah suh mahir mengganti sendiri. Paling Uti mengecek sesekali. Yang kerap rutin kami lakukan juga adalah mengecek kadar gula abah karena  menjelang operasi baru diketahui jika abah menderita diabet, maka melalui seorangs epupu yang perawat kami titip alat pengecek gula digital yang lengkap u/ mengecek kolesterol, asam urat juga. Selebihnya mengatur pola makan abah, minum juice beet + wortel + tomat + apel, masih rutin setiap hari kami buat u/ abah. Menakar jumlah porsi makanan abah, dan alhamdulillah abah juga rutin olahraga dan jalan pagi pasca sholat Subuh.

 

(kurang lebih gambaran menggunakan stoma spt ini : )

sumber gmb : dari sini

 

Dulu awal pakai kantung stoma, abah sempet ga PD untuk sholat, “Masa sholat ngantungin kotoran di perut.” Begitu dalih abah, namun setelah kami beri pengertian panjang lepar abah menerima dan mengerti, bahwa tidak 1 manusiapun di bumi yang menginginkan hal ini, namun semua  sudah diatur Allah.

 

Sekarang abah sudah rutin sholat dhuha – mengaji, bahkan tahajud malam pun abah lakukan. Alhamdulillah… BB abah pun seiring berjalannya waktu kian bertambah, dulu saat keluar dari RS BB abah hanya 44kg, sekarang sudah 53kg dalam 6 bulan. Sungguh kenaikan yang significant…

Tapi tetep aja namanya orang tua, kadang kalo kebosenan abah lagi muncul, abah akan ngumpet2 ngambil makanan yang abah sukai lebih dari porsi yang sudah kami berikan. Kalo kepergok maka spontan abah akan jawab, “Ahh.. gpp Mba, kan sekali- Cuma dikit ini..” Hmmm…..

Ultah abah kali ini, abah ga mau apa2, doain biar abah sehat, bisa mendampingi anak dan cucu2 abah. Bis kesampaian mengantar cucu2nya sekolah dan menjemputnya. Sederhana bukan cita2 abah??

 

Tadi saat aku telpon ke rumah dan menanyakan hadiah apa yang abah inginkan, “Beliin aja kantong stoma dan buffer nya untuk abah.”

Ahhh… abah membuat aku terharu, kantong stoma dan buffer memang akan selamanya menjadi teman setia abah kemanapun abah pergi. Memang mengeluarkan biaya extra namun demi kebaikan dan kesehatan abah, Insya Allah selama kami semua masih mau dan terus berusaha, rejeki itu pasti ada. Amien…

 

Foto abah sekarang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

foto 6bl lalu pasca operasi - BB abah 43kg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Significant bukan? Alhamdulillah... Trima kasih ya Allah....

 

 

*********************

dedicated for abah tersayang... May 11, 2010

 

Wednesday, November 25, 2009

Jumat lebaran ya, abah mau ketupat Mba……

“Jumat lebaran ya, abah mau ketupat sama opor ayam Mba……”

Itulah kalimat yang abah sampein ke aku tadi malam saat aku jenguk abah. Hiksss… arti kalimat yang dalam banget buatku. 

 

“Iya abah Jumat lebaran, abah sabar yaa.. yang penting abah sembuh dulu nanti Mba Ina bikinin ketupat sama opor ayam yang banyak buat abah, ok…??” Menahan isak aku menjawab pertanyaan abah.

 

Pasca operasi 13 Nov lalu, s/d hari ini abah belum bisa makan makanan normal, dalam artian makanan menu lengkap, s/d hari ini pula makanan abah masih cair plus bubur halus. Ditambah cairan nutrisi yang diberikan melalui infuse. Entah berapa lama lagi abah harus melewati ini semua. Kadang2 ga tega liat abah, tapi inilah kenyataan yang harus abah lewati, sakitnya abah bikin ritual abah berubah. Apalagi selain operasi abah juga baru diketahui memiliki diabetes, otomatis sekarang semua makanan yang masuk bener2 under ahli gizi dan ga boleh sembarangan terlebih abah pasca operasi. Kesukaan abah dulu ngemil sekarang berubah semua ditakar, semua dijaga. Semoga saja abah diberi kesabaran… amien….

Karenanya nanti malam kami anak2 abah sepakat untuk kumpul di RS bersama2 melewati malam takbiran. Kami ga ingin abah kesepian, kami ingin abah semangat, kami aka nada di dekat abah apapun kondisinya. Inysa Allah….

Meski lebaran kali ini tanpa opor ayam, tanpa ketupat, tanpa semur daging, Insya Allah semua tetap bermakna. Hewan Qurban sudah jauh2 hari dipesan oleh Om Budi & Mam Tika, dedicated u/ Abah dan Ibu.

Selain abah ada 2 orang yang begitu setia mendampingi abah, yaitu mimih, aka tantenya abah yang dianggap sudah seperti ibu kandung abah sendiri, s/d hari ini mimih ga pulang2 ke rumah, genap 2 minggu mimih setia menemani abah di RS setiap hari siang & malam, “mimih ga akan pulang ke rumah sebelum abah sembuh dan bisa pulang ke rumah.” Begitu selalu jawaban mimih saat aku mengajak mimih pulang.

1 lagi adalah Ibuku, Ibu yang juga sangat aku sayang dan cintai, Ibu yang biasa dipanggail Uti oleh Jibran dan Kyo. Ibu setia menunggui abah. Sudah ga kehitung berapa kali Ibu bolos kerja, baru2 beberapa hari belakangan ini Ibu masuk kantor, itupun hanya setengah hari. “Ga tega Ibu ninggalin Bapak yang lagi sakit.” Begitu selalu alasan Ibu.

2 orang inilah yang emmotivasi aku utnuk lebih semangat mendampingi abah. Sebisa mungkin pulang kerja aku akan ke RS untuk menemani abah, Ibu dan Mimih, begitu setiap hari bergantian dengan adikku aka Mama Tika. Sementara adik bungsuku Om Budi, papa Kyo/Om Randy dan ayah bergantian shift malam dan nginap di RS menemani Ibu Abah dan Mimih.

Jika week end sementara tugas kami digantikan oleh saudara or sepupu2 lainnya. Alhamdulillah hikmah terbesar yang kami dapat dari cobaan ini adalah kebersamaan yang kian erat antar saudar. Alhamdulillah…

“Jadi kapan abah bisa makan ketupat Mba?” Tiba2 abah menyadarkanku lagi..  L

 

Tuesday, November 17, 2009

Pre and Post Picture of Abah

Berikut gambar yang aku ambil, sesaat abah akan di operasi dan pasca operasi.

Belakangan yang kuposting selalu cerita tentang abah, jujur… sakitnya abah membuat aku cukup down, karena selama ini abah relative dekat dengan aku, namun kenapa bisa aku ga tau jika selama ini abah menyimpan sakitnya tsb dan diketahui baru sekarang. Guilty feeling, iya banget. Ini pelajaran berarti buatku, yang kuinginkan sekarang kesembuhan abah, apapun akan kami lakukan untuk abah. Pun dengan ibu sangat terpukul, namun ga bisa selamanya kami  bersedih, kami semua harus bangkit untuk kesembuhan abah. Sekali lagi mohon doanya....

maaf untuk yang tidak berkenan...

 

ket gmb:

29 oct 09 - ini foto wisuda adik bungsuku - om budi, setelah acara wisuda ini kondisi abah drop dan langsung kami bawa ke UGD mitra, harus rawat inap.

ket gmb :12 Nov 09, abah sedang mendengarkan Quran digital, malam terakhir menjelang hari H operasi, abah terlihat tambah tua, BB semula 60 turun menjadi 55

 

ket gmb :13 Nov 09, kondisi abah sesaat setelah keluar dari ruang operasi, masih belum siuman..

Just dedicated to abah... terhitung hingga hari ini sudah 24 hari abah opname di Mitra. Mudah2an lebaran haji ini abah sudah bisa kembali ke rumah, berlebaran Haji dan Qurban bersama-sama di rumah, seperti halnya keinginan abah yang disampaikan ke kami, segera pulang ke rumah, amien...

 

Wednesday, November 11, 2009

H2C H-1

Semua perasaan terakumulasi saat ini, besok penentuan Abah. Setelah menimbang, berpikir, dan bermusyawarah dengan keluarga besar, memikirkan segala resiko dan manfaatnya, insya Allah keyakinan kami semua bulat, besok Abah akan di operasi. Semua demi kebaikan abah, semua demi kesembuhan Abah.

 

Genap 14 hari abah opname, bukan waktu yang sebentar. Berlalunya hari terasa lambat, tidak lagi kurasakan lelah yang mendera, semua focus pada sakitnya abah.
Alhamdulillah meski Jibran tempo hari demam mencapai 40’ disusul Kyo ikutan demam hingga 39’, sempet keteteran membagi konsentrasi antara Jibran dan Kyo yangs edang sakit, abah di RS dan kerjaan kantor yang ga mungkin aku tinggalin lama2. Bersyukur aku memiliki atasan yang sangat pengertian, meski beberapa
kali aku datang telat atau pulang lebih awal bahkan bolos, blio mengerti kondisiku.

 

Sekarang giliranku drop, asma kambuh disusul batuk. Ga ada yang bisa kulakukan selain berdoa dan terus berusaha. Symbicort senantiasa selalu mengiringiku, kapan dirasa perlu segera aku pakai. Alhamdulilah sedikitnya mengurangi sesak nafasku.

 

Abah jarang sakit, itulah kenyataannya selama ini. Namun sungguh itu 1 keliruan besar, bukan abah jarang sakit, sebaliknya karena abah selalu berusaha menyembunyikan sakitnya itu. Dirasakan sendiri, dipendam sendiri, hingga kami semua merasa abah baik-baik saja, sampai akhirnya abah drop dan baru diketahui sakitnya abah kini.

Setelah melalui pemeriksaan panjang, vonis dokter cukup jelas, bagai pukulan telak buat kami semua. Tumor Rektum Ya Allah… sungguhkah ini? Kalimat pertama yang keluar dari mulutku begitu mendengar penjelasan dokter. Di ruang dokter aku menangis, ga lagi peduli tempat, spontan itu yang kurasakan. Sempet terdiam ga tau harus bagaimana, “Bu.. apapun penyakit ayah Ibu, inilah kenyataanya, terima dengan ikhlas ya Bu.” Ucap dokter kepadaku. Degg… inilah kenyataannya. Dokter itu benar, menangis sesuatu yang manusiawi namun aku tidak bisa terus2an hanya menangis. Aku harus bangkit, meski dirasa berat Insya Allah pasti ada jalan keluar.

 

Penyebab sakitnya abah selama  beberapa hari kurahasiakan kepada Ibu. Belum cukup hati menyampaikannya, hingga akhirnya Minggu lalu setelah rapat besar keluarga, melalui suamiku, ia menyampaikan keadaan Abah sesungguhnya. Nangis, itu reaksi awal dari Ibu begitu mendengar sakitnya abah, aku cukup mengerti jika Ibu merasa down, itulah yang kurasakan beberapa hari lalu.

 

Tante, nenek, Om mencoba meyakinkan Ibu bahwa semua yang terjadi harus diterima dengan ikhlas, Sabar dan tawakkal atas semua nya. Meski awalnya berat, tapi ini harus dihadapi.

Cukup lama kami semua meyakinkan Ibu, bukan perkara mudah bagi Ibu menerima kenyataan ini. Penyakit ayah bagai momok untuk ibu, langsung kebayang kematian dan anggapan tidak dapat disembuhkan. Ya Allah kuatkanlah Ibu, begitu terus ucapku dalam hati.  Sedihhhh rasanya liat Ibu menangis, sakit rasanya hati ini, segera kudekati Ibu, kupeluk Ibu, meminta Ibu untuk beristigfar. Ini bagian dari rencana Allah, Insya Allah Bapak pasti sembuh, begitu terus aku mencoba meyakinkan Ibu.

Setelah banyaknya support dari teman, keluarga, tetangga yang diberikan kepada kami, alhamdulillah sekarang kami bisa ikhlas dan menerima kenyataan ini. Kemudian dari internist di rujuk ke dokter bedah, konsul dan membicarakan rencana pengobatan selanjutnya untuk abah. Akhirnya kemarin malam dicapai kesepakatan rencana operasi abah adalah besok Jumat pk 5 sore. Sampai dengan hari ini kondisi abah relative stabil. Pemerikasaan penunjang semua telah dilakukan. MCU, cek lab, konsul ke kardiolog, dan semua hal yang berkaitan dengan rencana operasi sejak kemarin sudah mulai dipersiapkan.

 

Selebihnya tugas kami semua untuk meyakinkan abah bahwa operasi ini Insya Allah berjalan lancar. Meski jujur semakin mendekati hari H aku semakin deg2an. Cemas luar biasa. Ini operasi besar dan serius, begitu ucap dokter bedah. Persiapkan mental dan terus berdoa, team dokter akan berusaha yang terbaik itu pasti, selebihnya Allah yang punya kuasa. Setiap operasi pasti ada resikonya, namun pikirkanlah tujuan operasi ini untuk kesembuhan abah. Berkali-kali dokter menegaskan hal ini kepada kami.

 

Mungkin Inilah saatnya aku berbakti kepada orangtua, Ya Allah, kuserahkan semua ini kepadamu, kupasrahkan semuanya kepadamu, kami ingin kesembuhan untuk abah, kami ingin abah bisa berkumpul lagi bersama kami. Berilah kelancaran pada operasi besok. Amien…

*doaku untuk abah, ayah dan kakek yang sangat kami sayangi…”

                       ini adalah foto lebaran lalu, di bandara sesaat sebelum take off ke jambi

Tuesday, November 3, 2009

Berusaha untuk Ikhlas

Semalam aku baru tiba di rumah setengah 11 malam setelah sebelumnya ke Mitra menjenguk abah , sudah berandai-andai begitu sampe rumah segera mandi dan istirahat. Namun rencana tsb urung setelah kudapati Jibran demam. Adikku sengaja tidak mengabarkanku karena dia ga ingin aku panik. Cape dan lelah terabaikan, ya Allah Jibran kenapa nak? Ku cek suhunya derrrr… 38,2. Adikku bilang demamnya Jibran tiba2 baru setengah 8 ba’da isya. Dari tadi rewel mulu.

Setelah sejenak mandi dan ganti baju baru kugendong Jibran, malam itu giliran ayah nginap di RS nungguin abah, jadilah semalam aku gendong jibran karena dia rewel semalaman.

Sampai tadi pagi aku berangkat kantor Jibran masih demam dan sesekali nginggau. Nak.. sabar yaa… Insya Allah kamu lekas sembuh.

 

Sore ini padahal aku sudah janjian u/ ketemu dokter u/ konsul tentang sakitnya Abah. Ibu dan abah memang belum kami beritau sakitnya abah. Kami masih menunggu waktu yang pas. Sungguh ini cobaan berat buat kami, bagaimana tidak abah yang selama ini sehat tiba2 sekarang sakit dan diaognosa sakit abah sungguh ga bisa kami percaya. Kepastiannya memang masih menunggu hasil biopsy senin nanti, namun ciri2 sudah mengarah ke sana.

 

Jika ada beberapa teman MP yang nanya ke aku dan PM apa diagnosa sakitnya abah, aku memang belum berani kasih jawaban atau upload  di MP sebelum ada kepastian yang jelas. Jujur sebagai anak sulung aku benar2 merasa ini berat, tapi aku harus kuat demi adik dan ibuku. jujur..pedihhhhh banget terima kenyataan ini, semoga dugaan dokter akan sakitnya abah ini keliru, aku pingin abah sehat, meski aku harus mempersiapkan kemungkinan terburuk bisa saja terjadi. Semoga Allah memberi aku kekuatan dan kesabaran.

 

“Mba Ina, sebenarnya abah sakit apa, kenapa abah diperiksa macam2, abah pingin pulang.” Ucap abah tadi malam sesaat aku dan Mama Tika pamit ingin pulang.

Deggg… aku dan Mama Tika saling berpandangan, sedihhhh banget dengar abah bicara setengah memohon.

“Abah sabar ya. Pemeriksaan itu dilakukan untuk kebaikan abah, biar abah lekas sembuh. Mba Ina ga mau abah dikasih obat macem2 kalo ga ada data yang akurat,makanya abah diperiksa, yang penting sekarang abah ga usah mikir macem2, abah harus banyak makan biar cepet sembuh, Insya Allah abah pasti akan cepet pulang.” Ucapku menghibur abah.

Trus CT scan buat apalagi?” Tanya abah.

“Abah CT Scan itu untuk memeriksa lebih dalam sakitnya abah, dan ini tidak sakit. Kita semua pasti mengusahakan yang terbaik untuk abah biar abah cepet sembuh.”

Ya Allah, dada ini terasa begitu sesak, di mobil dalam perjalanan pulang, lagi2 aku menangis. Kulihat Mama Tika yang duduk di sebelahku pun tampak lelah, aku maklum karena dia sedang hamil. Jarak Kuningan Depok lumayan jauh seperti juga aku yang bolak balik cibubur-senen-depok. Mudah2an aku ga drop, begitu selalu harapanku.

 

Belum lagi urusan abah kelar sekarang Jibran sakit. Tadi telpon ke rumah Jibran rewel, minta digendong mulu, duhhh nak, sabar ya… Bunda juga rasanya ingin pulang tapi ga mungkin karena sejak kemarin Bunda sudah izin2 terus, meski di kantorpun ga bisa konsen kerja.  Jibran pastinya kangen sama ayah bundanya, karena selama abah sakit otomatis perhatian tersedot untuk mengurusi abah. Aku terlalu yakin kalau Jibran baik2 saja, dan ternyata aku keliru, Jibran pun butuh perhatian. Maafin Bunda ya Nak..

 

Lelah fisik lelah hati semua kuabaikan. Insya Allah aku harus kuat, suka atau tidak inilah kenyatannya yang harus aku jalani. Meski terasa berat aku berusaha sekuat mungkin untuk ikhlas, Insya Allah akan ada hikmah dibalik cobaan ini. Amien.. ya robal alamien..

 

Monday, November 2, 2009

Inikah cobaan??

Sejak semalam mata ini lelah, air mata terus mengalir, meski kucoba tahan namun aku tak kuasa, kembali turun dengan derasnya, cemas hati, cemas pikiran, cemas perasaan, semua perasaan jadi satu. Cengengkah aku? Entah, aku keingetan abah terus. Ke kantorpun sesungguhnya ga bisa konsen kerja karena pikiran inget ke abah. Pulang kantor, bolak balik ke RS, cape badan ga kurasakan. Meski harus realistis dan rasional, bahwa semua sudah ada yang mengatur, semua rahasia Allah, semua kehendak Allah.

 

Menunggu hasil biopsy setelah tindakan colonoscopy pada abah kemarin sore, membuat aku cemas dan khawatir. Ya Allah semoga ketakutan ini tidak berkepanjangan, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk abah. Amien…

 

Begitu dokter memanggil aku dan berbicara, terasa bagai godam , Ya Allah, semoga itu keliru.” Ucapku dalam hati.

Segera ku sms ayah yang masih dijalan untuk segera tiba di RS. Ayah datang bersamaan dengan adik bungsuku. Ga kuasa menahan, akhirnya tumpah juga, pertahananku bobol, sesenggukan kuceritakan semua hasil pertemuanku dengan dokter tadi. Ayah terdiam demikian juga adikku.

“Bund, semua masih perkiraan, belum ada hasil, berdoa saja semoga apa yang dikhawatirkan dokter itu tidak terjadi, Bunda harus kuat, yakini apa yang terjadi sekarang kehendak Allah, Allah yang punya kuasa, Abah ini orang baik Bund, cobaan ini diberikan karena Allah sayang sama Abah, kita sebagai manusia hanya bisa berencana tapi Allah yang menentukan, serahkan semuanya kepada Allah, berdoa dan pasrah Bunda, kembalikan semua kepada Allah, yang terpenting kita jangan putus asa terus berusaha dan berdoa untuk Abah ya Bund.” Ucap ayah mencoba menenangkanku.

 

Terngiang kembali perkataan Abah, “hidup mati seseorang adalah kuasa Allah.” Begitu selalu ucap abah.

 

“Jangan bawakan abah Koran, abah jadi ngantuk kalo baca Koran, mendingan bawain abah Quran dan kacamata, abah ga betah kalo Cuma tiduran seperti ini.” Ungkap abah kepada Mama Tika.

Ya Allah, semoga kami semua bisa menerima kehendakmu dengan ikhlas Ya Allah, meski kemungkinan terburuk bisa saja terjadi, tolong beri kami kekuatan. Kami akan melakukan yang terbaik untuk Abah, apapun itu. Mudah2an apapun hasilnya nanti, adalah yang terbaik yang Allah berikan untuk abah, dan untuk kami semua orang yang sayang dan mencintai abah.

 

Berikut foto abah saat masih sehat, masih gemuk, sebelum sakit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sunday, November 1, 2009

Kondisi Abah sekarang

Setelah 4 hari opname di Mitra Depok, secara fisik kondisi abah sudah baikan, meski Gula Darah masih belum stabil, nanti sore akan dilakukan colonoscopy untuk mengecek  lebih jauh ada apa dengan pencernaan abah. Mudah2an semua berjalan lancar.

Siang ini after lunch aku langsung ke Mitra, izin cuti setengah hari, jujur aku jadi ga konsen kerja.

 

Sekarang semua makanan sudah diatur, abah hanya boleh makan makanan dari RS saja, hmm… kasian abah, padahals elama ini abah juga ga pernah makan macam, santan dihindari, jeroan dihindari, pedas sama sekali ga disentuh, namun perutnya masih bermasalah. Mudah2an penyakit abah segera diketahui.

Abah berkali2 bilang pingin pulang, kangen sama Jibran dan Kyosha, padahal week end lalu kita semua kumpul di RS, namun Kyosha dan Jibran nunggu di lobby ga boleh naik ke atas, abah yang sabar yaa.. nanti kalo abah sembuh abah pasti akan ketemu dan main2 lagi sama Jibran dan Kyosha.

 

1 hal yang aku salut, sholat abah ga pernah ketinggalan, kemarin Om Budi lupa bawain kacamata abah sempet complain karena abah jadi ga bisa baca Qur’an.

Bolak balik juga abah ke kamar mandi karena mau wudhu, padahal tangan masih terinfus, akhirnya infuse ditangan kiri di pindah ke tangan kanan karena basah dan rembes air. Beberapa kali suster datang untuk periksa terpaksa harus nunggu karena abah sedang sholat atau baca Qur’an. Subhanallah….

 

Buat semua yang mampir dan baca postingan ini, mohon doanya ya, semoga colonoscopy sore ini berjalan lancar dan abah bisa segera sembuh dari sakitnya, amien…

Thursday, October 29, 2009

Cepat sembuh ya Abah….

Sejak kemarin siang abah dirawat di Mitra Depok. Masih belum diagnosa yang jelas, karena gejala awal adalah diare Abah yang on off, meski tidak terus menerus namun hal ini berlangsung sejak puasa lalu. Hiksss… ini adalah puncaknya. Selama sakit abah tidak pernah mengeluh dan abah selalu bilang kalau abah sehat dan baik-baik saja. Berkali-kali di ajak ke RS namun berkali-kali pula abah menolak. Abah selalu meyakinkan kami semua abah sehat dan tidak apa2. Akhirnya kami kembali tenggelam kepada kesibukan masing-masing, sibuk dengan keluarga, sibuk dengan anak, sibuk dengan kerjaan di kantor. Sampai akhirnya minggu lalu abah bilang kalo perut abah sakit dan ga enak. Namun sayangnya aku ga sempat menemani abah ke dokter, lagi2 karena  kami sibuk dengan urusan masing-masing. Ya Allah… teganya aku…., demikian Mama Tika juga ga sempat karena selain kondisi yang lagi mabok karena hamil juga di kantornya sedang ada masalah, juga dengan Om Budi, dia lagi sibuk2nya dengan urusan siding dan rencana wisuda.

Mbah Uti aka Ibuku, pun demikian belum bisa ambil cuti, maklum menjelang pensiun Mbah Uti justru tambah sibuk dengan kerjaannya di kantor..

Sungguh kami tenggelam dengan kesibukan masing-masing, sementara abah tengah merasakan sakitnya tanpa seorangpun diantara kami yang peduli. Sungguh aku ngerasa salah sekarang.

Akhirnya Senin lalu 26 Oct karena sudah tidak tahan Abah ke RS diantar Ibu, periksa lab dan (maaf) tinja, setelah melihat hasil lab, sungguh jawaban dokter membuat Ibu kaget, diputuskan Abah harus rawat inap. Namun abah menolaknya, lagi2 abah bilang abah ga perlu rawat Inap, karena Abah ingin 29 Okt nanti datang ke wisuda Om Budi di Balai Sudirman. Ga ada yang bisa maksa, diputuskan akhirnya abah rawat jalan s/d hari Kamis 29 Okt, namun dokter bersikeras menyarankan abah untuk opname, dan memberikan rujukan untuk rawat inap.

 

Kemarin 29 Okt, pagi2 sekali Abah, Mbah Uti dan Om Budi ke Balai Sudirman karena ada acara wisuda Om Budi. Karena undangan hanya berlaku untuk 2 orang aku dan Mama Tika sepakat menyusul siang ke Balai Sudirman. Pagi sebelumnya aku ke Prodia Kramat untuk MCU (program tahunan dari kantor) siang sepulang MCU bergegas aku nyusul ke Balai Sudirman, sudah janjian dengan Mama Tika sebelumnya.

Masuk melalui basement akhirnya aku dan Mama Tika bisa menyelinap masuk kedalam ketemu Abah dan Ibu yang memang sudah lebih dulu ada di dalam. “Mba, abah kayanya sakit ya, kok wajahnya pucat banget.” Mama Tika berbisik kedekatku. Deggg… kulihat memang wajah abah sangat pucat dan lemas, Ibu bilang selama acara Abah sudah 2x ke toilet karena mules. Ya Allah, pasti abah ngerasa ga nyaman banget namun demi acara ini abah bertahan seolah abah baik2 saja. Selesai acara masih ada sesi foto, kami pun berlima pun foto dulu.

Saat menunggu Om Budi ambil mobil ke basement, kulihat abah semakin lemes, ga ampun,, aku ga mau beresiko, aku putuskan bawa abah ke RS, dan Mama Tika pun sepakat. Setelah ngedrop Mama Tika di kantornya, kamipun bergegas ke Mitra Depok. Izin ke si Bos aku ga bisa kembali  ke kantor karena ayah sakit.

Maaf ya Om Budi, acara yangs eharusnya bisa menggembirakan malah berkahir seperti ini.

 

Sampai Mitra aku daftar ke UGD dan Abah segera ditangani, meski awalnya alot karena surat rujukan rawat inap tertinggal di rumah aku keukeuh abah harus segera diberi pertolongan. Alhamdulillah akhirnya abah dapat kamar. Merasa salah banget sama abah kenapa harus begini kejadiannya, kenapa setelah parah aku baru hadir?? Abah sudah terlihat lemes, aku ga tahan ngeliatnya, di kamar mandi aku nangis. Ibu juga keliatan sedih pastinya seperti aku juga merasa salah kurang perhatian ke Abah.

 

Kemudian abah diperiksa, periksa jantung, rontgen perut, periksa darah, periksa tinja (maaf). Dokter UGD  memanggilku untuk memberitahukan hasil periksa tsb, dokter bilang hasil gula darah abah tinggi 343 padahal maximal adalah 200, dokter bertanya apa abah ada riwayat diabetes? Seingatku tidak, karena abah memang jarang sakit.

 

Dari UDG Abah dipindahkan ke kamar perawatan. Pulang kerja Ayah dan Om Randy menyusul ke Mitra. Sampai jam 8 malam namun dokter Internist yang memeriksa abah sebelumnya belum juga visit, akhirnya aku putuskan pulang. Malam itu Om Budi yang nginap dan nemenin Abah. Dan kamipun sepakat besok harus ada yang nungguin abah secara bergantian, karena malam tadi Om Budi sudah menunggui, selanjutnya hari ini giliran aku, Mama Tika ga mungkin karena dia lagi mabok, namun Abah bersikeras ga mau ditungguin, “biar aja kalian kerja, abah ga apa-apa, lagian disini kan banyak suster yang jaga, kalo abah perlu apa2 abah akan panggil suster. Pulang kerja aja kalian baru kesini, nantis ore kalo kesini jangan lupa bawain abah kacamata dan Yasin,” Ucap Abah saat kami bersepakat untuk menunggui abah. Sungguh abah memang hebat, meski sakit abah terus beribadah, bukan oleh2 makanan yang diminta namun kacamata dan Surah Yasin yang abah minta.

Kami ga bisa maksa, akhirnya hari ini kami semua ngantor, meninggalkan abah di RS sendirian. “Abah, Mba Ina janji nanti sore pasti kesana sama Tika dan Budi juga. Abah yang sabar yaa… mudah2an penyakit abah segera ketauan dan abah cepat sembuh dan segera bisa pulang lagi ke rumah, Jibran dan Kyosha kangen sama abah….”

 

catatan bunda Oct 30, berilah kesembuhan pada abah Ya Allah...

Sunday, May 10, 2009

Abah di usia 62 th.....

Alhamdulillah, hari ini 11 Mei 09, tepat 62 th usia Ayahku, selanjutnya mendapat panggilan Abah setelah kelahiran Jibran, cucu pertamanya. Tadi pagi jam 6 aku telpon mau say B'day, ternyata adikku bilang abahnya lagi ngaji. Hmm.. terharu aku mendengarnya. Rutinitas ayahku dari dulu, bangun pk 3 dini hari, begitu bangun segera minum air putih 1 botol besar ukuran 1liter, lalu sholat Tahajud sampai menjelang Subuh, setelah sholat Subuh, disambung lagi dengan membaca Qur'an sampe setengah 7 pagi. Selesai baca Qur'an, selanjutnya Abah sarapan pagi dan jalan pagi di depan rumah sebentar, sekitar jam 8 pagi lanjut lagi ambil wudhu dan sholat Dhuha. Itulah ritual abah setiap hari setelah blio pensiun. Siang hari menjelang dzuhur, abah sudah pergi ke mesjid, lalu dzikir dan jika petugasa azan belum datang maka abah lah yang akan azan, dan dzuhur berjamaah di mesjid, begitupun dengan ashar, magrib dan isya, jika kebetulan abah ada di rumah pasti diusahakan untuk sholat berjamaah di mesjid.

Dulu, saat abah belum pensiun dan kami anak2nya belum menikah, sholat subuh dan magrib adalah sholat wajib berjamaah bersama seluruh angoota keluarga. Abah akan jadi imam, ibu ku, aku dan adik-adikku yang akan jadi makmumnya. Masih inget banget, setiap Subuh pasti abah udah bangunin kami untuk segera sholat subuh, padahal kami masih ngantuk tuh, abah ga peduli, "sholat itu wajib dosa kalo ditinggali, ga ada habisnya kalo tidur mulu, ayo bangun."

Apalagi jika tiba bulan ramadhan, maka frekuensi ibadah abah pasti meningkat tajam. aktifitas baca Quran akan lebih intens, di mulai dari setelah Tahajud, kemudian membaca Quran sampai menjelang subuh, setelah subuh di sambung lagi sampai menjelang dhuha, begitu seterusnya. Yang mengaggumkan dalam 1 bulan ramadhan Abah bisa 2 kali khatam Qur'an, duhh.. aku aja seumur-umur baru sekali khatam Quran, padahal waktu hamil Jibran kepikiran untuk bisa khatam Quran tapi sayang ga terwujud. Sebaliknya Abah selalu rajin dan baca Quran untuk kehamilanku sampai khatam, tepat 2 hari mejelang kelahiranku Abah khatam untuk ke 4 kalinya. Trima kasih ya Bah.. Bahkan dulu saat detik2 menjelang operasi caesar kelahiran Jibran, 1 yang abah amanahkan ke aku menjelang aku masuk ruang OK, "Mba Ina jangan berhenti berdoa ya, baca ayat kursi dan dzikir, Insya Allah semua lancar, abah selalu doain untuk kelancaran operasi ini." hiksss... ga terasa berlinang airmataku, bahkan Ibu cerita saat aku di dalam ruang operasi, Abah langsung pergi ke mushola RS Hermina untuk sholat dan dzikir, mendoakan kelancaran untukku.

Abah diusia 62 th hari ini, alhamdulillah masih sehat wal alfiat (semoga Ya Allah kau berikan kesehatan kepada kedua orangtuaku, amien..), selalu menjadi panutan bagi kami semua. Ayah yang penyabar, nyaris ga pernah marah. Rasanya belum pernah aku melihat abah marah, kalopun kesal yang terucap hanya, astagfirullah, sisanya hanya diam nanti setelah kesal Abah hilang, abah akan panggil kami dan mengajak kami bicara tentang kesalahan kami dan menasehati kami pelan2 sehingga ga jarang membuat kami malu dan menangis dan akhirnya sikap abah ini justru membuat kami malah merasa tambah salah dan menyesal. Abah adalah orang yang baik dan siap membantu, selalu ada waktu untuk anak2nya, apalagi ibu. Bahkan sampai sekarang jika ibu ada keperluan dan mau pergi maka ayah selalu siap mengantar dan menjemput kemanapun Ibu akan pergi. Sungguh bagian romantis yang kadang membuat ku iri.

Selamat ulang tahun Abah.. Semoga sehat dan panjang umur. Semoga selamanya menjadi ayah tauladan bagi kami semua, anak dan cucu abah. Semoga Allah senantiasa memberi rahmat dan karunia kepada Abah dan kita semua. Semoga di tahun depan kita masih dapat berkumpul bersama. Maafin Disna ya Bah kalo sampai saat ini belum bisa membahagiakan abah, malah seringnya bikin abah pusing dengan masalah2 Disna. Sering direpoti dengan keperluan2 anak2 Abah, seharusnya sekarang waktunya abah istirahat dan menikmati masa tua tapi abah malah selalu siap sedia dan kapanpun kami butuh bantuan abah, abah akan selalu bantu dan ada untuk kami.

Salam sayang dan peluk cium buat Abah dari kami semua....